Sejarah: Pasek Kayu Selem di Tanah Bali


Pasek Kayu Selem di tanah Bali

Berawal pada kisah perjalanan Mpu Semeru datang ke tanah Bali hendak menghadap Bhatara Hyang Putrajaya di Besakih. Beliau ke Bali seorang diri tanpa pengiring/pengikut , menyusuri pegunungan di tanah Bali. Pertama beliau tiba di Kuntulgading (Kedisan), dan meneruskan perjalanan hingga tiba di daerah Tampurhyang (Songan). Indah memang daerah itu, maka terpesonalah Mpu Semeru, udaranya sejuk menyegarkan.

Beristirahatlah Mpu Semeru di Tampurhyang, kebetulan ada mata air suci disana, sejuk nan bersih, beliau mandi disitu. Usai beliau mandi, pandangannya tertunbuk pada sebuah tonggak kayu asam (celagi) yang hitam lantaran bekas terbakar. Konon dengan kasidhi ajnanan dan kekuatan panca bhayunya, tonggak kayu itu diciptakan menjadi seorang manusia. Maka terjelmalah seorang manusia dari kayu celagi, memang demikian adanya. Selanjutnya sang manusia celagi di berikan aneka pengetahuan kesucian kebhatinan hingga akhirnya dapat dikatakan Sang Manusia Celagi berubah status menjadi seorang Mpu. Mpu Dryakah demikian namanya, Mpu Dryakah merupakan Bhujangga (pandhita) bagi orang Bali Aga.


Dikisahkan juga pada suatu ketika, dihari yang dianggap baik Mpu Semeru membisikkan sesuatu di telinga Mpu Dryakah, beliau mengucapkan Sanghyang Ongkaramantra. Sejak saat itu Mpu Dryakah diganti gelarnya menjadi Mpu Kamareka, guna menghadap Bhatara Hyang Putrajaya di Besakih dan Bhatara Hyang Gnijaya di Gunung Lempuyang. Entah berapa waktu berlalu Mpu Semeru telah dapat kembali ke pulau Jawa, dan pada hari Jum’at Keliwon wara Pujut, purnama sasih kawolu candra Sangkala Jadma Siratmaya Muka, 912 kembali datang ke tanah Bali langsung menuju Tampurhyang (Songan). Beliau disambut oleh Mpu Kamareka beserta istri. Saat itu ada lagi amanat Mpu Semeru pada Mpu Kamareka, agar Mpu Kamareka baik-baik memegang Sanghyang Ongkara Dyatmika, dan disuruh melanjutkan kepada semua keturunannya. Oleh karena kelak banyak keturunan Mpu Kamareka yang tersebar di tanah Bali agar juga diberitahu supaya taat dengan tugas dan kewajiban. Ditegaskan juga setelah lewat dari tiga keturunan Mpu Kamareka, mereka disebut Arya Pasek Kayu Selem, dan bila memiliki kemampuan boleh mujanggain (berhak menjadi pandhita).


Setelah sekian waktu berlalu, dikisahkan Mpu Kamareka meninggal dunia, pada saat pembakaran jenazahnya para putra Mpu Gnijaya yakni Sang Sapta Rsi (Mpu Ketek, Mpu Kananda, Mpu Wiradnyana, Mpu Withadharma, Mpu Ragarunting, Mpu Prateka, dan Mpu Dangka) yang berparahyangan di Kuntuliku, Jawa di mohon datang ke tanah Bali. Sang Sapta Rsi melakukan pemujaan pada upacara pembakaran jenazah Mpu Kamareka. Demikian seterusnya, setiap upacara yang digelar keturunan Mpu Kamareka selalu dipuja oleh keturunan Mpu Gnijaya. Mpu Kamarekalah yang menjadi cikal bakal dari warga Pasek Kayuselem (Ki Kayuselem, Ki Celagi, Ki Tarunyan, dan Ki Kayuan) di tanah Bali.

Penunggun Karang, Pembangunan dan Penempatannya yang Benar



Di Bali Penunggun Karang atau juga disebut sebagai Palinggih Pangijeng, merupakan salah satu tempat suci pekarangan rumah yang berfungsi sebagai sedahan penjaga karang atau palemahan beserta penghuninya agar senantiasa berada dalam lindunganNya, tentram, rahayu sekala niskala.

Penunggun Karang dalam Sastra Dresta disebut Sedahan Karang (di perumahan) untuk membedakan dengan Sedahan Sawah (di sawah) dan Sedahan Abian (di kebun/ tegalan/ abian).

Pembangunan Penunggun Karang

Dalam lontar Kala Tattwa disebutkan bahwa Ida Bethara Kala bermanifestasi dalam bentuk Sedahan Karang/ Sawah/ Abian dengan tugas sebagai Pecalang, sama seperti manifestasi beliau di Sanggah Pamerajan atau Pura dengan sebutan Pangerurah, Pengapit Lawang, atau Patih.

Di alam madyapada, bumi tidak hanya dihuni oleh mahluk-mahluk yang kasat mata, tetapi juga oleh mahluk-mahluk yang tidak kasat mata, atau roh.

Roh-roh yang gentayangan misalnya roh jasad manusia yang lama tidak di-aben, atau mati tidak wajar misalnya tertimbun belabur agung (abad ke 18) akan mencari tempat tinggal dan saling berebutan.Untuk melindungi diri dari gangguan roh-roh gentayangan, manusia membangun Palinggih Sedahan.

Penempatan Penunggun Karang

Penunggun Karang dapat ditempatkan dimana saja asal pada posisi “teben” jika yang dianggap “hulu” adalah Sanggah Kemulan.

Karena fungsinya sebagai Pecalang, sebaiknya berada dekat pintu gerbang rumah. Jika tidak memungkinkan boleh didirikan di tempat lain asal memenuhi aspek kesucian.

Yang perlu diperhatikan, bangunan Palinggih Sedahan harus memenuhi syarat:

Pondamennya batu dasar terdiri dari dua buah bata merah masing-masing merajah “Angkara” dan “Ongkara”

Sebuah batu bulitan merajah “Ang-Mang-Ung”; berisi akah berupa tiga buah batu: merah merajah “Ang”, putih merajah “Mang”,dan hitam merajah “Ung” dibungkus kain putih merajah Ang-Ung-Mang

Di madia berisi pedagingan: panca datu, perabot tukang, jarum, harum-haruman, buah pala, dan kwangen dengan uang 200, ditaruh di kendi kecil dibungkus kain merajah padma denganpanca aksara diikat benang tridatu

Di pucak berisi bagia, orti, palakerti, serta bungbung buluh yang berisi tirta wangsuhpada Pura Kahyangan Tiga.

Persyaratan ini ditulis dalam Lontar Widhi Papincatan dan Lontar Dewa Tattwa. Jika palinggih sedahan tidak memenuhi syarat itu, yang melinggih bukan Bhatara Kala, tetapi roh-roh gentayangan itu antara lain Sang Butacuil.

Jika melaspas atau ngelinggihan membutuhkan kepekaan dari seorang pinandita/pandita untuk tahu siapa yang menjadi penguasa tempat itu. Semua penguasa alam seperti Hyang Bahu Rekso, diketuai oleh Deva Ganesha, jadi Hyang Bahu Rekso dikelompokkan ke dalam GANA BHALA (pasukan Gana),

Jadi kalau di rumah menstanakan Ganesha itu sangat baik karena Ganesha meiliki multifungsi diantaranya adalah:

Sebagai VIGHNASVARA:
Penghalau segala rintangan (OM VAKTRA TUNDA MAHA KAYA SURYA KOTI SAMAPRABHA NIRVIGHNA KURUME DEVA SARVA KARYESU SARVADAM). makanya para Balian meuja Beliau agar dapat menghilangkan penyakit. Sebagai SIDDHI DATA: sebagai pemberi kesuksesan, (SARVA KARYESU SARVADAM).

Sebagai VINAYAKA:
Lambang kecerdasan (intelek), makanya dijadikan simbol pengetahuan, dan baik untuk anak-anak.

Sebagai BUDHIPRADAYAKA:
Memantapkan kebijaksanaan setiap Vaidika Dharma (pencari kebenaran),

Sebagai LAMBODARA:
Sumber kemakmuran. Akan lebih baik kalu di Penunggu Karang dilinggihkan Arca Ganesha (devanya para Bahu Rekso), daripada tidak tahu siap yang distanakan.

Penunggun Karang dalam Lontar Asta Kosala Kosali dan Asta Bhumi

Dalam perhitungan dasar Asta Bhumi, pekarangan rumah biasanya dibagi menjadi sembilan, yakni dari sisi kiri ke kanan; nista, madya dan utama serta dari sisi atas ke bawah; nista, madya dan utama. seperti gambar disamping. sehingga terdapat 9 bayangan kotak pembagian pekarangan rumah. adapun pembagian posisi tersebut antara lain:


  1. Posisi utamaning utama adalah tempat “Sanggah Pemerajan”
  2. Posisi madyaning utama adalah tempat “Bale Dangin”
  3. Posisi nistaning utama adalah tempat “Lumbung atau klumpu”
  4. Posisi madyaing utama adalah tempat “Bale Daje atau gedong”
  5. Posisi madyaning madya adalah tempat “halaman rumah”
  6. Posisi nistaning madya adalah tempat “dapur atau pawon / pasucian”
  7. Posisi nistaning Utama adalah tempat “Sedahan Karang"
  8. Posisi nistaning Madya adalah tempat “bale dauh, tempat tidur”
  9. Posisi nistaning Nista adalah tempat “cucian, kamar mandi dll” biasanya digunakan tempat garase sekaligus “angkul- angkul” gerbang rumah.


Setelah mengetahui posisi yang tepat sesuai dengan Asta Bhumi diatas untuk posisi sedahan karang, selanjutnya menentukan letak bangunan Sedan Karang tersebut. yaitu dengan mengunakan perhitungan Asta Kosala Kosali, dengan sepat atau hitungan tampak kaki atau jengkal tangan. perhitungannya dengan konsep Asta Wara (Sri, Indra, Guru, Yama, Rudra, Brahma, kala, Uma). adapun perhitungannya:

Untuk pekarangan yang luas ( sikut satak ), melebihi 4 are atau sudah masuk perhitungan “sikut satak”, posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara menujuKala ( 7 tapak ) dan dari sisi barat menuju Yama ( 4 tampak ).adapun alasannya adalah:sesuai dengan fungsi Sedahan karang yaitu sebagai pelindung dan penegak kebenaran yang merupakan dibawah naungan dewa Yama dipati (hakim Agung raja Neraka), serta tetap sebagai penguasa waktu dan semua kekuatan alam yang merupakan dibawah naungan Dewa kala. ini dimaksudkan agar Sedahan Karang berfungsi maksimal sesuai dengan yang telah diterangkan diatas tadi.

Untuk pekarangan sempit yaitu pekarangan yang kurang dari 4 are seperti BTN, posisi Sedahan Karang dihitung dengan: dari utara  dan barat cukup menuju Sri atau 1 tampak saja. dengan maksud agar bangunan tersebut tetap berguna walau tempatnya cukup sempit, tapi dari segi fungsi tetap sama.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat untuk semeton. Ampura jika ada penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Dan mohon dikoreksi bersama jika ada. Suksma..

9 Pura Di Bali Tempat Memohon (Nunas) Keturunan Atau Anak


9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturunan
9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturunan

Setelah upacara pernikahan, maka anak adalah anugerah terindah dalam hidup kita. Namun demikian tentu ada pula yang kurang beruntung, setelah sekian lama menikah belum juga dikaruniai keturunan ataupun anak. Jika sulit punya keturunan, menjadi masalah serius bagi mereka yang sudah lama menikah, tentunya anda tidak boleh berkecil hati karena hidup ini sudah diatur oleh yang teratas, apa yang kita punya dan apa yang kita dapatkan, mungkin itu adalah yang terbaik bagi anda saat ini.

Namun tentunya usaha tersebut wajib dicoba dan tidak boleh pasrah, karena setiap usaha pasti ada hasilnya, apalagi dibarengi dengan doa. Usaha pertama tentunya adalah konsultasinya dengan ahlinya yaitu team medis, apalagi sekarang ini dengan kemajuan teknologi, maka anda diberikan solusi yang lebih mudah dan asalkan ada biaya. Namun perlu diingat juga kekuatan doa kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widi tentulah sangat penting untuk untuk mengantarkan usaha anda agar menjadi sukses.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturunan

Selain dengan cara-cara medis, banyak cara dan usaha manusia yang sulit memiliki keturunan ataupun anak, misalnya menempuh cara alternatif selain untuk membantu kelancaran usaha yang telah dilakukan. Bagi mereka yang tidak bisa menjalani pengobatan medis, karena terbentur biaya, mungkin salah satu alternatif yang dilakukan adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar cepat dikaruniai momongan. Untuk itulah ada beberapa tempat suci atau pura di Bali sebagai tempat memohon keturunan (anak) atau “nunas sentana”.

Informasi ini mungkin saja bermanfaat bagi mereka yang memiliki kepercayaan kental dengan kerohanian, permohonan dan doa kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widi harus didasari dengan keyakinan, keinginan yang tulus iklas dan jujur. Dalam halaman ini kami rangkum sejumlah pura di pulau Bali yang dipercaya sebagai tempat untuk memohon keturunan atau anak (nunas sentana). Sehingga mereka yang butuh informasi dan tentang tempat-tempat tersebut bisa terbantu, dan berikut informasi 9 buah tempat suci tersebut;

Selain dengan cara-cara medis, banyak cara dan usaha manusia yang sulit memiliki keturunan ataupun anak, misalnya menempuh cara alternatif selain untuk membantu kelancaran usaha yang telah dilakukan. Bagi mereka yang tidak bisa menjalani pengobatan medis, karena terbentur biaya, mungkin salah satu alternatif yang dilakukan adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar cepat dikaruniai momongan. Untuk itulah ada beberapa tempat suci atau pura di Bali sebagai tempat memohon keturunan (anak) atau “nunas sentana”.
Pura Kereban Langit
Pura Kereban Langit
Pura ini terletak di desa Sading, Kecamatan, Mengwi, Badung. Jadi bagi warga kota akan mudah untuk menemukannya. Pura ini terbilang cukup unik, berada dalam sebuah goa yang mana langit-langit goa tersebut berlubang sekitar berdiameter 2 meter. Di dalam goa tersebut mengalir tirta atau air suci yang dipercaya untuk orang yang memohon atau nunas keturunan. Ada kisah unik mengenai Pura Kereban Langit tersebut, tentang kelahiran raja kembar buncing Sri Masula-Masuli, yang diceritakan Ibunda permaisuri bisa hamil setelah mendapatkan anugerah Tirtha Salaka yang berada dalam goa. Sampai sekarang pura ini populer untuk tempat nunas sentana atau memohon keturunan.

Selain dengan cara-cara medis, banyak cara dan usaha manusia yang sulit memiliki keturunan ataupun anak, misalnya menempuh cara alternatif selain untuk membantu kelancaran usaha yang telah dilakukan. Bagi mereka yang tidak bisa menjalani pengobatan medis, karena terbentur biaya, mungkin salah satu alternatif yang dilakukan adalah memohon kepada Ida Sang Hyang Widi agar cepat dikaruniai momongan. Untuk itulah ada beberapa tempat suci atau pura di Bali sebagai tempat memohon keturunan (anak) atau “nunas sentana”.
Pura Siwa
Pura Siwa
Tempat suci selanjutnya untuk memohon anak atau keturunan berikutnya adalah di Pura Siwa Budha, kawasan suci ini terdapat patung Dewa Siwa setinggi 10 meter ini, yang sekarang cukup populer di kalangan warga, tidak hanya bertujuan untuk memohon anak atau keturunan saja, tetapi untuk memohon anugerah lainnya seperti juga jabatan ataupun kedudukan, termasuk untuk melakukan meditasi. Di Pura Siwa Budha juga dipercaya untuk memohon kesembuhan atau pengobatan dengan membawa bungkak (kelapa muda) nyuh gading diisi 3 bunga berbeda, setelah melukat anda minum air kelapa tersebut termasuk makan bunga di dalamnya. Di Pelataran pura Siwa terdapat sebuah Lingga Yoni sebagai perlambang kesuburan, yang diyakini bisa untuk memohon berbagai anugerah, termasuk juga jika anda kesulitan mendapatkan keturunan, anda bisa mencoba anugerah dan keberuntungan di Pura Siwa.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Erjeruk
Pura Erjeruk
Pura tempat memohon keturunan atau memohon anak berikutnya adalah Pura Erjeruk, lokasinya di Br. Glumpang, Desa Sukawati, Kabupaten Gianyar Bali. Pura ini dinyatakan bertuah untuk mereka yang kesulitan mendapatkan keturunan, di kawasan utamaning mandala pura terdapat sebuah pelinggih yang dinamakan Ratu Brayut, tempat inilah diyakini sebagai tempat untuk memohon anak atau keturunan, dan menurut penuturan warga sudah banyak yang terbukti, terbukti dengan orang-orang yang membayar kaul, karena keinginannya terpenuhi, sehingga pura Erjeruk ini juga banyak didatangi oleh pemedek di luar Sukawati.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Pajinengan Agung Tap Sai
Nama pura ini sebenarnya adalah pura Pajinengan Agung, nama Tap Sai disematkan karena dulunya pura ini sebagai tempat untuk bertapa (metapa sai-sai), sehingga kemudian sampai sekarang dikenal sebagai Pura Pajinengan Agung Tap Sai. Lokasinya sendiri di desa Pempatan, Kecamatan Rendang, Karangasem, berada di tengah hutan pada kaki Gunung Agung, tempat dan lokasi pura ini sangat terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk, alamnya sangat tenang dan damai, sehingga ideal untuk menyepi untuk menemukan kedamaian rohani. Di utama mandala Pura Tap Sai ada sebuah Lingga Yoni yang merupakan simbol Purasa (laki-laki) dan pradana (perempuan) di tempat inilan anda bisa sujud bhakti melakukan permohonan untuk memohon anak atau keturunan dan juga jodoh. Di Pura Tap Sai juga sebagai tempat melukat untuk menghilangkan pengaruh negatif dalam tubuh.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Luhur Gonjeng
Pernah mendengar nama Pura Luhur Gonjeng ini, tentu namanya masih cukup asing, lokasinya di desa Kukuh, Marga, Tabanan, jadi tidak terlalu jauh dari pusat kota Denpasar dan Tabanan. Bahkan lokasinya berdekatan dengan objek wisata Alas Kedaton. Yang cukup menarik di Pura Luhur Gonjeng adalah letak lingga dan yoni terpisah dan keduanya dipercaya memiliki fungsi yang berbeda. Untuk Lingga sendiri dipercaya warga untuk memohon anak atau keturunan, Lingga di pura ini pemurah banyak pasangan suami istri yang permohonanya terkabul. Bahkan mereka yang ingin memiliki sentana lanang (anak laki-laki) maka datang dan memohonlah di sini. Lingga tersebut memiliki ketinggian 60 meter, konon awalnya pendek namun menurut penuturan warga, lingga tersebut tumbuh dan menjadi lebih tinggi. Sedangkan yoni yang terletak di Pura Luhur Gonjeng diyakini bisa untuk memohon obat untuk hewan ataupun ternak.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Kepuh Kembar
Pura tersebut sebagai salah tempat yang dipercaya untuk memohon atau nunas keturunan. Lokasinya di Br. Belulang, desa Kapal, Kec. Mengwi, Badung. Pura Kepuh kembar seperti namanya terdapat dua pohon kepuh kembar, kawasan pura memiliki aura magis yang tinggi, konon banyak rencang Ida Bhatara di sini. Pura ini berkaitan dengan perjalanan ksatria yang bernama Ida Dalem Putih Jimbaran dan Ida Dalem Solo. Sehingga tempat ini dikenal juga sebagai Pura Dalem Solo. Pura Kepuh Kembar diyakini juga sebagai tempat untuk memohon keturunan, dikenal sangat pemurah (bares) terutamanya untuk pasangan suami istri yang belum dikaruniai anak, dan menurut warga banyak yang sudah membuktikanya.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Pemade Batan Kepuh

Pura ini terletak di bawah pohon kepuh, yang merupakan wilayah dari Banjar Tandeg, desa Tibubeneng, Kecamatan Kuta Utara Bali. Pura tersebut merupakan pura warisan leluhur warga setempat. Di sini juga ada pura Batan Bingin yang letaknya di bawah pohon beringin. Tetapi pura yang diyakini sebagai tempat untuk memohon keturunan adalah Pura Batan Kepuh. Nah jika pasangan suami istri telah mencoba berbagai usaha dan belum dikaruniai anak atau keturunan, maka datang dan memohonlah dengan hati suci dan tulus di tempat ini, maka dipercaya permohonan anda akan terkabul.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Geger Dalem Pemutih
Pura ini terletak di desa Peminge (Nusa Dua Selatan) kecamatan Kuta Selatan. Pura Geger Dalem Pemutih merupakan salah satu pura Dang Kahyangan, terletak di atas tebing karang, dari pura ini anda bisa menyaksikan keindahan alam laut dan pantai Geger. Di tempat inilah Dang Hyang Dwijendra dalam perjalanan sucinya sempat beristirahat. Di kawasan Pura Geger juga terdapat beji, beji tersebut terletak pantai Geger, tersembunyi diantara batu karang, tempat untuk melukat (meruwat), terdapat beberapa pelinggih termasuk Lingga-Yoni yang merupakan simbol dari Purusa Pradana, yang dipercaya juga sebagai tempat memohon atau nunas keturunan.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna Pura Lingga Yoni Di Ujung
Pura Lingga Yoni Di Ujung
Di kawasan pantai Ujung, Desa Tumbu, Kabupaten Karangasem, ditemukan sebuah Linggam atau patung yang berbetuk Lingga-Yoni. Dalam filosofi Ciwa Sidanta, Lingga Yoni adalah simbol dari purusa dan pradana dua hal yang berbeda (rwa bhineda). Jika dua purusa-pradana tersebut bertemu diyakini akan menimbulkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi jagat raya. Situs dengan Lingga-Yoni tersebut juga dipercaya oleh warga dan juga menurut penekun spiritual, Linggam tersebut bisa sebagai tempat untuk memohon (nunas) keturunan atau memohon anak.

9 Pura di Bali yang Diyakini Sebagai Tempat Memohon/Nunas Keturuna
Pura Candidasa
Pura Candidasa
Pura tempat memohon keturunan atau memohon anak ini terletak di pinggir jalan raya utama Candidasa, jika dari arah Denpasar terletak di kiri jalan, tepat di seberang Lotus Lagoon (laguna dengan tanaman lotus). Pura Candidasa ini tergolong sudah cukup tua, dibangun pada tahun 1190 Masehi (isaka 1112). Pura ini juga merupakan lambang pemersatu dari paham Budha dan Siwa. Di sini juga terdapat Lingga-Yoni sebagai lambang kesuburan. Selain itu terdapat sebuah patung dengan menggendong 10 anak, yang diyakini sebagai tempat untuk memohon keturunan atau nunas sentana. kawasan Candidasa sendiri adalah destinasi wisata populer di pulau Bali.

Ke 9 tempat suci ataupun pura di pulau Bali tersebut, diyakini warga untuk memohon keturunan atau anak (momongan), namun demikian, tidaklah untuk tujuan tersebut saja, dengan keyakinan dan hati yang tulus, anda bisa memohon apa saja termasuk keturunan atau sentana, apalagi pada sejumlah tempat tersebut ada tempat untuk melukat (meruwat) membersihkan diri secara rohani.

Ciri-ciri Anak Melik dan Cara Merawatnya


Ciri-ciri Anak Melik dan Cara Merawatnya

Melik adalah suatu anugrah pada saat kelahiran anak yang teramat besar dari Ida Sang Hyang Widhi. Dalam Lontar Purwa Gama disebutkan bahwa Anak yang memiliki melik mempunyai rerajahan sejak lahir yang dapat menimbulkan kematian, sehingga diperlukan upacara pebayuhan otonan melik pada si anak untuk menetralisir kekuatan tersebut dan selalu ingat dalam melaksanakan suci laksana untuk mempertahankan dan meningkatkan kesucian diri.

Rerajahan yang terdapat pada orang melik biasanya terdapat di telapak tangan, dijidat atau di bagian tubuh tertentu selain itu juga bisa terdapat tanda senjata terkadang terdapat salah satu dari sembilan senjata pengider bhuwana tergantung tugas yang diemban sang anak lahir ke dunia, dengan rerajahan senjata para dewa seperti:

  1. Bajra
  2. Gada
  3. Nagapasa
  4. Cakra
  5. Dupa
  6. Angkus
  7. Trisula
  8. Moksala,
  9. Api dan Angin


Tentu jika ingin melihat tanda-tanda berupa sejata diatas pada orang melik tidak dapat dilihat dengan kasat mata/ mata orang biasa. Melik atau tidaknya seseorang biasanya diketahui setelah matetuun atau mepinunas pada sulinggih atau balian. Orang yang melik mempunyai kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang biasa pada umumnya.

Ia disenangi semua golongan roh halus, baik itu roh yang bersifat negatif (butha) juga para dewa-dewi.

Ciri-ciri Anak Melik

Kelahiran “melik” terlihat dari tanda-tanda di tubuhnya, antara lain :

1. Ketika lahir, badannya dililit tali plasenta beberapa kali putaran. Kelahiran seperti ini sangat jarang terjadi, dan kalau ada, kebanyakan mati beberapa saat sebelum keluar dari rahim ibunya.

2. Ketika tumbuh berumur +/- 2 tahun, rambut di kepalanya kusut (sempuut). Walau digundul, tumbuhnya sempuut lagi.

3. Kepalanya mempunyai pusaran (usehan) 3 atau lebih

4. Lidahnya poleng (ada warna hitam/coklat)

5. Ada tahi lalat besar (maaf) di kemaluannya

Semakin cepat seseorang mengetahui dirinya memelik maka semakin bagus sehingga akan segera dibuatkan upacara penebusan untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan buruk dari memelik.

Jika tidak mendapat banten penebusan maka biasanya orang yang memelik sesuai dengan kelahirannya ada yang diambil pada saat baru bisa berjalan, ketika baru menikah dalam upacara pawiwahan, dan ada juga pada saat baru mempunyai anak. Dengan pebayuhan melik akan dinetralisir kekurangan yang ada dalam dirinya (menghilangkan apes pengaruh melik). Supaya semua kekuatan bersinergi, agar dapat keseimbangan antara Bhuana Agung dan Bhuana Alit.

Sesungguhnya orang Melik itu adalah berkah bagi keluarganya karena dia ibarat lokomitif atau pesawat terbang yang akan mengantarkan keluarganya ke alam kebahagiaan sekala-niskala. Maka tolong bantu dan bimbing orang-orang Melik itu karena dia akan berguna tidak hanya bagi keluarga yang memiliki tetapi juga bagi masyarakat luar, bahkan bangsa.

Dalam sejarah Bali, ada contoh kelahiran melik yang sangat heboh, yakni kelahiran bayi tahun 1599 M, hasil perkawinan (tidak resmi) Dalem Seganing dengan Si Luh Pasek Panji. Ketika lahir, tubuh bayi itu seluruhnya berwarna merah darah, dan di malam hari dari ubun-ubunnya keluar sinar terang berwarna biru. Oleh karena itu bayi itu dinamakan Ki Barak Panji. Ternyata setelah besar beliau sangat sakti sehingga berhasil menjadi Raja Buleleng I dengan gelar I Gusti Anglurah Panji Sakti.

Bahkan ada pula yang mengatakan entah benar atau tidaknya kami sendiri belum berani memberi kepastian, dikutip dari blog I Gede Junidwaja menyebutkan “Jangan lupa Presiden RI Pertama Soekarno pun orang memelik, saya tahu dan pernah bertemu dengan saksi yang masih hidup dan memang mampu mengenali orang memelik.”

Merawat Anak Melik

Anak melik biasanya “kerinyi” (bahasa Indonesia : sensitif, mudah tersinggung, mudah marah, dll). Jadi ia perlu diperlakukan beda, misalnya kamar tidurnya harus selalu bersih dan suci, ada pelangkiran diatas hulu tidurnya. Ia perlu sering-sering melukat ke Gerya, makanannya di jaga agar selalu memakan makanan yang satwika (lihat tt hal ini di website ini). Banyak bergaul dengan orang-orang suci, karena dia merasa dekat dengannya. Kalau makin dewasa, berikan pelajaran agama yang intensif, panggilkan guru agama kerumah untuk les, dan berikan pelajaran spiritual secara bertahap. Nanti ia akan berumur panjang dan menjadi orang suci, karena atman (roh) nya sudah dalam kondisi siap menerima lanjutan kemampuan supranatural.

Bagaimana caranya agar orang Memelik tidak pendek umur?
Syarat pertama adalah jaga makanannya, jangan sampai makan makanan kotor sekala niskala.

Makanan jenis: darah, tulang dan jeroan hindari; Kalau bisa pantang daging hewan berkali empat. Minumuan jenis: beralkohol, arak, tuak, berem jauhi. Idealnya adalah makan makanan organik dan vegetarian.

Lalu yang terpenting berikutnya adalah jangan melakukan hubungan sex di luar pernikahan.

Jangan menginap dan tidur di sembarang tempat. Kalau terpaksa maka sebelum tidur harus dilakukan pemberisihan dan pengamanan terlebih dahulu. Sebenarnya jika sudah punya Guru maka Guru itu pasti mengajarkan tata cara ini.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap dan kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Anak Melik Jelek atau Bagus?


Anak Melik Jelek atau Bagus?

Masyarakat Bali mengenal istilah anak melik, yaitu seseorang yang memiliki kelebihan seperti pada umumnya. Ketika lahir, anak melik memiliki tanda-tanda seperti dililit tali pusar, rambut kusut serta adanya tanda lahir tertentu seperti yang tertulis dalam Lontar Purwa Gama. Orang Melik diyakini memiliki kelebihan mental dan tingkat spiritual tinggi, dan konon merupakan suatu anugerah energi ketuhanan atau energi kesidhian yang dibawa seseorang karena karma yang dibawanya ke kehidupan saat ini. Lalu, adakah kekurangannya?

Pendek Umur

Berbicara tentang tanda lahir orang melik, salah satunya terlilit tali pusar tentu dapat dijelaskan secara medis bayi yang terlilit tali pusar adalah fenomena yang wajar saat ini. Lalu, apa kelahiran seperti itu dikategorikan kelahiran ‘khusus’? tentu tidak! Gejala ini dapat disebabkan karena gerakan bayi yang aktif dalam kandungan, memiliki cairan ketuban yang berlebihan, serta kondisi tali pusar yang panjang. Apa hubungannya dengan usia? lilitan tali pusat yang semakin kencang yang membuat pembuluh darahnya tertekan, sehingga mengancam keselamatan bayi jika tidak ditanggulangi dengan tepat. Nutrisi akan terhambat apabila tali pusar yang terlalu panjang melilit dan menekan saluran makanan bayi sehingga gizi tidak terpenuhi secara maksimal.

Anggapan orang Bali masih melekat bahwa anak melik mempunyai tanda lahir yang tidak wajar, seperti tanda merah pada wajah, kadengan, kulit putih dll. Konon memiliki umur yang pendek, mudah terkena penyakit  atau gangguan niskala lainnya. Padahal dari sisi medis anak yang memiliki tanda lahir disebabkan oleh pembuluh darah yang terkumpul atau tidak tumbuh normal sehingga dapat mengancam kesehatannya dikemudian hari.

Kesamaan Dengan Indigo

Anak Melik dan Orang Indigo diyakini mampu melihat gejala niskala serta berinteraksi dengan dimensi lain. Anak Melik memiliki watak ‘kerinyi’ atau sensitif sejak lahir, sedangkan orang indigo memiliki emosi yang labil dengan kata lain keduanya memiliki kesamaan jika dilihat dari sisi psikologi. Lalu, apakah benar anak melik dan indigo bisa melihat hal mistis? Dalam dunia kedokteran tidak ada istilah Indigo. Indigo masih dimasukan dalam kategori "pseudoscience" karena tidak adanya alat medis yang dapat membuktikan kebenaran mengenai kondisi yang mereka alami.

Kesimpulannya, Anak melik maupun orang Indigo memang memiliki bakat, namun mereka juga punya kekurangan. Sama seperti anak pada umumnya. Semua anak yang terlahir ke dunia adalah anugerah, memiliki kemampuan, bakat dan kelebihan masing-masing beserta kekurangan dalam dirinya.

Benarkah Anak Usuan 2 Punya Sifat Nakal? Inilah 5 Fakta Tentang Usuan di Kepala


Setiap orang memiliki Usuan/puser dikepalanya. Biasanya usuan ini menjadi sorotan saat masih anak-anak.

Khususnya bagi anak-anak yang memiliki Usuan dua di kepalanya. Banyak orang yang menyakini bahwa anak yang memiliki Usuan dua cenderung bersifat nakal.
Apakah anggapan tersebut benar?

Berikut adalah fakta tentang bagian kepala yang dikenal dengan cowlicks atau hair whorls dalam bahasa Inggris tersebut atau kerap disebut pusar rambut atau pusar kepala:

1. Telah muncul sejak lahir

Dilansir oleh ranker.com, Usuan ini sudah dimiliki manusia sejak ia lahir.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada tahun 1972 menunjukkan, 94 persen bayi yang baru lahir di AS sudah memiliki pusar rambut.

Untuk anak yang memiliki rambut panjang, cowlicks sulit untuk diketahui dimana letaknya.

Umumnya, usuan ini sulit dihilangkan, hanya bisa hilang dengan waxing, elektrolisis dan bedah plastik.

2. Jumlah usuan menentukan karakter seseorang

Tak dipungkiri, jumlah hair whorls ditengarai bisa menentukan seperti apa sifat seseorang.

Jika si kecil punya pusar rambut hanya satu, maka ia akan memiliki kepribadian yang kuat dan tumbuh menjadi sosok baik ketika dewasa.

3. Jika seseorang memiliki dua buah pusar rambut, berarti...

Anak yang memiliki dua buah usuan  jumlahnya sedikit.

Mereka dikenal pintar dan andal dalam melakukan segala sesuatunya.

Selain itu, anak dengan dua cowlicks dapat melihat suatu masalah dari sudut pandang berbeda.

Nah, orangtua sering salah kaprah dengan menganggap jika anaknya memiliki dua pusar kepala akan jadi anak nakal.

4. Ada juga orang yang mempunyai tiga hair whorls atau lebih

Walaupun, orang dengan tiga usuan amat jarang ditemui.

Kalaupun ada, berarti orang itu adalah pribadi ulet dan berkemauan keras.
Bagaimana jika lebih dari tiga? Ternyata bisa saja mengindikasikan sesuatu yang buruk pada anak.

Kemungkinan terdapat perkembangan otak yang tidak normal.

5. Bentuk pusar kepala juga beragam jenisnya

Ada orang yang memiliki bentuk pusar kepala searah, dan berlawanan arah dengan jarum jam.

Dr Amar J S Klar, Kepala Bagian Genetika dan Laboratorium Biologi Kroosom di National Cancer Institute di Maryland menyebutkan, terdapat hal unik mengenai bentuk pusar rambut.

Orang yang pusar rambutnya mengikuti arah jarum jam akan menggunakan tangan kanan dalam aktivitas harian.

Berbeda dengan yang memilki usuan berlawanan arah jarum jam, maka buah hati Anda akan kidal.

Makna Pelinggih Taksu di Merajan


Pelinggih Taksu merupakan salah satu pelinggih yang ada di Sanggah Pemerajan . Sanggah Pemerajan dapat diartikan sebagai tempat suci bagi suatu keluarga tertentu. Secara umum kebanyakan orang menyebutnya dengan lebih singkat seperti Sanggah atau Merajan.

Pelinggih Taksu berbentuk Gedong, tetapi ada dua macam, yang pertama yaitu Gedong bertiang empat (saka pat) beruang dua (Rong dua). Dan yang kedua Gedong juga hanya memiliki tiang pendek (saka pandak) didepannya, ruangnya satu (Rong Tunggal), namun saka pandak itu sudah memberikan arti dua ruangan (Rong dua).

Pengertian Taksu

Mengenai kata Taksu, masyarakat Hindu sebagian besar masih belum memahami akan pengertian dan persepsinya. Tidak sedikit yang berpendapat kalau di anggota keluarga tidak ada yang menjadi penari, pedalangan, dukun dan sebagainya, dianggap tidak perlu memiliki pelinggih Taksu. Menurut sumber ajaran Agama Hindu sesungguhnya tidak demikian, melainkan taksu tersebut bersifat Universal dan merupakan kekuatan profesi masing-masing umat. Setiap manusia memiliki profesionality (wiguna). Menurut ajaran Hindu guna (profesi) tersebut ada sepuluh yaitu:


  1. Guna Rsi Profesi profesi sebagai pendeta
  2. Guna Wibawa profesi sebagai pegawai, pejabat.
  3. Guna Tukang profesi sebagai pertukangan
  4. Guna Sangging profesi sebagai sangging (tukang Patung)
  5. Guna Pragina profesi sebagai penari, penyanyi, pemusik.
  6. Guna Balian profesi sebagai pengarang (pujangga), penulis, wartawan.
  7. Guna Sastra profesi sebagai pedagang, pengusaha.
  8. Guna Sonteng profesi sebagai pemangku, pemuka agama.
  9. Guna Dagang profesi sebagai pedagang, pengusaha.
  10. Guna Tani profesi sebagai petani.


Dalam ajaran Tantrayana, taksu itu bisa diartikan sama dengan “sakti” atau “Wisesa”. Dan yang dimaksud dengan sakti itu adalah simbul dari pada “bala” atau kekuatan. Dalam sisi lain sakti juga disamakan dengan energi atau “kala”.

Dalam Tatwa, daya atau sakti itu tergolong Maya Tatwa. Energi dalam bahasa sanskrit disebut prana, yang adalah bentuk ciptaan pertama dari Brahman. Dengan mempergunakan prana barulah muncul ciptaan berikutnya yaitu panca mahabhuta. Dengan digerakkan oleh prana kemudian terciptalah alam semesta beserta isinya. Tuhan dalam Nirguna Brahma / Paramasiva dalam Siva Tatwa, memanfaatkan energi atau sakti itu, sehingga ia menjadi Maha Kuasa, memiliki Cadu Sakti dengan Asta Aiswarya-Nya. Dalam keadaan seperti itu Ia adalah Maha Pencipta, Pemelihara dan Pelebur. Dalam Wraspati Tatwa disebut Sadasiva dan dalam pustaka Weda disebut Saguna Brahma.

Sakti atau energi maya dari Tuhan itu dipuja dalam bentuk pelinggih yang disebut Taksu. Sedangkan Tuhan dalam wujudnya sebagai Sang Hyang Tri Purusa dan Sang Hyang Tri Atma dipuja dalam pelinggih kamulan. Dalam upacara nyekah, selain sekah sebagai perwujudan atma yang telah disucikan , kita juga mengenal adanya sangge. Sangge adalah perwujudan atau simbul dari Dewi Mayasih. Beliau mewakili unsur Maya Tatwa (pradana / sakti). Yang juga dalam upacara nyekah bersama-sama Atma ikut disucikan.

Dalam ajaran Kanda Pat, dikenal adanya nyama papat / saudara empat yang ikut lahir saat manusia dilahirkan. Setelah melalui proses penyucian, saudara empat itu menjadi Ratu Wayan Tangkeb Langit, Ratu Ngurah Teba, Ratu Gede Jelawung dan Ratu Nyoman Sakti Pengadangan. Kempatnya itulah disebut sebagai dewanya taksu. Tidak lain adalah saudara kita lahir yang nantinya menemani manusia dalam kehidupannya.

Fungsi Taksu

Taksu berfungsi untuk memohon kesidhian atau keberhasilan untuk semua jenis profesi baik sebagai seniman, petani, pedagang, pemimpin masyarakat dll.  Yang dipuja ialah Dewi Saraswati, sakti (kekuatan) Dewa Brahma dengan Bhiseka Hyang Taksu yang memberikan daya magis agar semua pekerjaan berhasil baik.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang tepat atau kurang jelas, mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Turus Lumbung, Kayu Sakti, Hindu Itu Fleksibel Tidak Memaksa

Turus Lumbung, Kayu Sakti, Hindu Itu Fleksibel Tidak Memaksa
Ilustrasi photo via sapoiha.com

Turus Lumbung adalah Sanggah Kemulan darurat,karena satu dan lain hal belum mampu membuat yang permanen. Turus lumbung dibuat dari batang (turus) kayu dap-dap banyak umat yang menggunakan pepohonan ini yang dipercayai sebagai taru sakti. Selain kayu dap-dap juga ada bambu, serta atapnya dari daun lalang. Di bagian bawah dekat ke tanah di setiap batang dap-dap agar diikatkan kwangen dengan jinah 11 keteng.


Makna Sanggah Turus Lumbung

Turus lumbung mengandung arti kias “melindungi dan menghidupi pemujanya”. Turus dapdap merupakan tameng atau perisai, yakni alat untuk melindungi diri , dan lumbung, yakni tempat untuk menyimpan padi untuk penghidupan. Bangunan ini sifatnya sementara yang nantinya akan diganti dengan bangunan yang agak permanen menurut kemampuan penghuninya. Batas waktu penggunaannya adalah 6 (enam) bulan, namun bila lewat 6 bulan belum juga bisa membangun yang permanen maka kwangennya agar diganti dengan yang baru.

Setelah penghuninya agak mampu, barulah mereka membuat bangunan untuk mengganti turus lumbung itu. Bangunan pelinggih ini dibuat dari kayu dan bambu serta memakai satu ruangan (rong tunggal) yang digunakan untuk tempat sajian. Bangunan rong tunggal inilah yang disebut kemulan atau sanggah kemulan.Peninggalan-peninggalan bangunan ini dijumpai di desa­-desa Bali Kuno, seperti di Julah, Sembiran, Lateng, Dausa, dan tempat kuno lainnya

Seiring berkembangnya jaman dari masa ke masa bangunan rong tunggal berkembang menjadi dua ruangan (me-rong kalih). Lantas berkembang lagi menjadi tiga ruangan (rong telu), untuk menghormati atau memuja para leluhur yang telah disucikan. Perkembangan Rong Tunggal hingga akhirnya menjadi rong telu disesuaikan dengan konsep Tri Murti yaitu Dewa Bhrama (Pencipta),  Dewa Wisnu (Pemelihara,) dan Dewa Siwa (Pelebur). Sehingga Rong Telu selain untuk memuja  leluhur juga untuk memuja Sang Hyang Tri Murti.

Membuat Sanggah Kemulan memang memerlukan biaya yang tidak sedikit akan tetapi jika dana belum mencukupi bisa membuat Turus Lumbung. Jadi dapat disimpulkan dalam tradisi agama Hindu khususnya di Bali. Tidaklah sebuah tradisi yang membuat miskin umatnya. Karena agama Hindu sangatlah fleksibel, yang selalu menyarankan umatnya untuk melakukan Yadnya tidak melebihi kemampuannya. Karena dalam Yadnya tidak mengutamakan kemewahan tapi ketulusan hati.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat. Mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Joged Bumbung Tari Tradisional Bali yang Kini Disalahgunakan


Bali memiliki reputasi sebagai daerah yang menjunjung budaya begitu tinggi. Oleh karena itu, seni dan budaya di Bali berkembang pesat. Di sini, Anda bisa menjumpai hasil karya seni dan budaya dalam berbagai bentuk, termasuk di antaranya adalah tari. Bahkan, tak sedikit karya tari tradisional Bali yang mendapat pengakuan sebagai warisan budaya dunia oleh UNESCO.

Salah satu tarian tradisional yang memiliki status sebagai warisan budaya dunia adalah joged bumbung. Hanya saja, ada fenomena miris yang perlu menjadi perhatian serius terkait keberadaaan tari tradisional ini. Fenomena tersebut adalah adanya sebagian oknum masyarakat yang kerap mempertunjukkan tarian ini dalam cara (mohon maaf) yang mesum dan erotis.

Kebiasaan untuk mengajak pengunjung untuk menari bersama merupakan hal yang lumrah di kalangan penari bumbung. Hanya saja, secara pakem, ajakan tersebut hanya berupa godaan saja. Kalaupun ada pengunjung yang berpartisipasi, tarian tetap dilakukan dengan gerakan sopan. Namun, kondisi ini jauh berbeda pada praktik dari para penari mesum.

Para oknum penari bumbung yang tidak bertanggung jawab, sering menggunakan gerakan yang mesum. Tak jarang, gerakan yang dipertontonkan merupakan gerakan seperti orang (mohon maaf) tengah bersenggama. Hal ini tentu saja cukup memprihatinkan. Apalagi, tak sedikit anak-anak yang turut berpartisipasi melihat pertunjukan tari tradisional ini.

Oleh karena itu, Pemerintah Bali sempat memiliki inisiatif untuk melarang pelaksanaan pertunjukan tari bumbung. Namun, upaya tersebut ternyata masih belum cukup. Tak jarang, tarian tradisional yang disalahgunakan menjadi tari mesum ini dilakukan secara sembunyi-sembunyi. Sontak, hal ini membuat citra tari tradisional ini memburuk.

Asal-usul Joged Bumbung Khas Bali

Dalam pakem aslinya, tari bumbung merupakan jenis tari tradisional yang positif. Keberadaannya bisa ditelusuri sejak thun 1940-an, dan dimanfaatkan sebagai tari pergaulan. Saat itu, tari ini menjadi sarana hiburan untuk para petani yang lelah setelah bekerja seharian di sawah. Dalam praktiknya, penari memang kerap mengajak para petani yang tengah menonton untuk berpartisipasi.

Penari yang biasa mempertunjukan tari bumbung adalah seorang wanita, yang memperlihatkan gerakan lincah serta dinamis. Dalam praktiknya, tari bumbung kerap disertai dengan iringan musik yang berasal dari gamelan serta perangkat musik dari bambu. Tidak ada cerita secara khusus yang menjadi corak dari pertunjukan tari ini. Hanya saja, secara umum tari Bali mengedepankan etika dalam setiap pementasannya.

Oleh karena itu, saat ini masyarakat Bali terus berusaha untuk mengembalikan joged bumbung dalam pakem aslinya. Hal ini penting, untuk bisa menghilangkan kesan sebagai tarian p0rn0 yang sudah berkembang di masyarakat luas. Apalagi, tarian ini memang sengaja diciptakan bukan untuk unsur mesum, tetapi murni sebagai hiburan.

Dengan begitu, citra Bali yang terkenal dengan kekayaan budayanya tidak tercoreng oleh tindakan orang-orang tak bertanggung jawab. Tidak ingin nama Indonesia buruk di mata internasional, kan?

Resepsi Nikah, Apakah Diharuskan? Simak Jawabannya Menurut Hindu



Upacara perkawinan dalam Ajaran Agama Hindu disebut ‘Vivaha Samskara’ semakin mengalami pergeseran. Nilai religius dari upacara perkawinan semakin berkurang, terutama pada bagian acara mengundang kerabat, sahabat, teman dekat, bahkan pejabat, yang lebih dikenal resepsi nikah.


Sering kali kita melihat kenyataan bahwa dalam resepsi nikah yang dipikirkan adalah penggalian dana, meskipun tidak semua orang seperti itu, akan tetapi pasti ada yang berpikiran demikian. Dengan kata lain mengundang seseorang dalam acara resepsi nikah untuk mendapatkan uang yang terselip dalam amplop, resepsi dijadikan ajang bisnis untuk mendapatkan keuntungan.


Hal ini tentu sudah menyimpang dan bertentangan dengan dharma karena dalam ajaran agama justru saat upacara pernikahan diwajibkan untuk bersedekah, berdana punia.


Sebenarnya apa hakekat acara resepsi nikah atau ‘mengundang’ ketika upacara perkawinan? Menurut pendapatku berdasarkan ajaran agama, ada dua tujuan utama alasan di balik acara mengundang seseorang ketika melaksanakan upacara perkawinan atau pernikahan, terutama resepsi nikah.

Melepas masa lajang untuk menikah merupakan babak baru dalam kehidupan berumah tangga. Dari sudut pandang niskala (secara gaib), menikah merupakan sebuah proses kelahiran, dimana kita lahir melalui upacara pernikahan atau wiwaha samskara. Oleh karena itulah adakalanya ucapan menikah itu, ‘Selamat menempuh hidup baru’.


Jangan anggap remeh kelahiran melalui upacara, kelahiran seperti ini lebih agung dari kelahiran secara biologis sebab lahir melalui mantra puja. Oleh karena itu, seseorang yang sudah menikah jangan coba-coba merasa bukan sebagai anak dari orang tua baru, yaitu ibu dan bapak mertua. Demikian sebaliknya seorang mertua jangan menganggap menantu sebagai bukan anak, meski mereka tidak lahir secara biologis.


Kelahiran baru inilah yang perlu diumumkan kepada masyarakat atau bahasa sederhananya kedua mempelai diumumkan kepada masyarakat bahwa mereka sudah menikah, agar masyarakat mengetahuinya. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, seperti misalnya agar tidak ada lagi orang lain yang menggodanya layaknya seseorang yang masih lajang.


Alasan yang lebih sakral, resepsi nikah tujuannya adalah untuk bersedekah (berdana punia), terutama membagi-bagikan makanan. Menurut kitab Siva Purana, membagi-bagikan makanan dinyatakan sebagai sedekah yang paling utama.


Dengan melakukan sedekah pada saat melaksanakan Yajna maka pahala yajna akan berlimpah, pahalanya berlipat-lipat, tentu jika dilandasi hati yang tulus. Barangkali itusebabnya tamu undangan yang datang membawa oleh-oleh berupa amplop dimasukan ke dalam kotak dana punia atau kotak sumbangan, bukan dimasukan ke dalam kotak penggalian dana.


Menurut ajaran Agama Hindu, seseorang yang melaksanakan Yajna tanpa bersedekah dianggap melakukan perbuatan dosa, melakukan sesuatu yang sia-sia, Yajna seperti itu tidak ada pahalanya. Itu sebabnya ketika mengundang seseorang saat resepsi nikah menjadi hal yang sangat penting untuk menjamu undangan dengan makanan. Menurut ajaran Hindu, tamu itu dewa. Jangan remehkan tamu yang datang ke rumah meski mereka berasal dari orang hina, orang jahat, lebih-lebih mereka datang ketika melaksanakan upacara Yajna.


Dulu, tamu undangan bahkan diwajibkan membawa makanan ke rumahnya, akan tetapi tradisi ini mulai hilang, namun masih diterapkan oleh masyarakat yang masih memegang teguh tradisi leluhur. Ketika selesai melaksanakan upacara Yajna, sisa-sisa persembahan seperti buah-buahan, nasi, ketupat, sengaja dibawakan ke rumah warga, terutama tetangga dan kerabat. Tradisi ini disebut ‘ngejot’. Tradisi yang sudah seharusnya dilestarikan, mengingat tradisi ngejot sangat bermakna. Selain membawa pahala Yajna, juga sebagai ajang silahturahmi.


Orang-orang yang berpikiran mendapatkan keuntungan dari acara resepsi nikah, mereka tidak akan mendapatkan pahala atau keuntungan dari upacara Yajna, yang didapat hanya eforia kemeriahan yang tidak membawa kedamaian. Oleh karena itu jika mengundang kerabat, sahabat, pejabat, maka niatkanlah hati dan pikiran untuk membagi-bagikan makanan, bukan untuk mendapatkan uang dari mereka.


Meski pun mereka datang membawa amplop, yang terpenting orang yang melaksanakan resepsi nikah sama sekali tidak mengharapkan pada undangan bahwa mereka datang membawa amplop, melainkan mengharpkan kedatangan mereka untuk mendoakan kita agar dalam kehidupan baru memperoleh kesejahteraan dan kedamaian. Dengan cara itu, semoga upacara perkawinanan membawa berkah.

Cara Membuat Anak Laki-laki Hindu Bali



Tujuan setiap orang atau manusia adalah kebahagiaan. Keluarga yang bahagia adalah dambaan setiap orang. Seorang anak yang lahir adalah harta yang tidak ternilai harganya bagi setiap keluarga. Di dalam terbentuknya keluarga yang bahagia dan kekal adalah terciptanya seorang anak baik laki-laki maupun perempuan. Untuk mendambakan seorang anak yang suputra diperlukan persiapan yang sangat baik


Bayi dalam kandungan bisa terwujud berkat pertemuan antara kama petak dan kama bang yang juga disebut cukla wanita yang keluar dari purusa (laki-laki) dan pradana (wanita). Kama petak adalah unsure laki-laki yang juga disebut cukla yang disimbolkan dengan Sang Hyang Semara. Sedangkan kama bang adalah unsure perempuan yang juga disebut swanita, yang disimbolkan dengan Dewi Ratih. Kama petak dan kama bang yang disebut cukla swanita itu, lalu disimbolkan dengan Sang Hyang Semara Ratih. Menurut salinan lontar Smara Kriddha Laksana bahwa suami istri yang melakukan hubungan romantis, terlebih dahulu hendaknya mengucapkan mantra


"Om krong karetaya sampurana Dewa Manggala ya namah"


Dalam hubungan romantis suami dan istri agar memperoleh keturunan dan anak bijaksana, maka sebaiknya mengucapkan mantra terlebih dahulu seperti :


"Om rang Rudra ya namah, idep sire sadkrosa"


Kalau menginginkan anak yang selalu berhasil dalam hidupnya nanti, mantra yang diucapkan :


"Om jrung mrtyuncaya ya namah"


Selain itu suami istri harus melakukan pantangan yaitu dilarang membunuh makhluk hidup dan hati selalu cinta damai. Kalau ingin memiliki putra pintar, mantra yang diucapkan :


"Om crikomadewa ya namah", bratanya ialah suami istri melakukan seuatu hubungan romantis itu hendaknya saling asih.


Dari Pernyataan tersebut juga disebutkan cara memperoleh anak laki-laki, ada beberapa macam ketentuan adalah sebagai berikut :

suami menulis beberapa huruf pada ibu jari tangan kanan dan ibu jari kaki kanan yang bunyinya: "Apurusa bhawati". Kemudian melakukan hubungan romantis pada siang hari dan konsentrasikan pikiran ke Sang Hyang Kamajaya

Memakai sarana antara lain: embotan pandan “asti” (bagian pangkal dan muda serta warnanya putih yang didapat dengan jalan menarik daunnya pada bagian atas dari pohon pandan asti tersebut) dipakai rujak yang dilengkapi pula dengan arak, terasi merah. Rujak itu ditempatkan pada mangkuk sutra dan disertai mantra: “Om cupu-cupu mirah dewaning buwel, tengan maisi putra, petu maha pekik. Om sidhi mantramku.” Setelah itu rujak tadi dimakan bersama-sama dan selanjutnya berpuasa selama sehari.

Pada ibu jari tangan kanan si istri, hendaknya diberi suatu tulisan, seperti inilah rajahnya :

Selain tersebut diatas, waktu sangat menentukan untuk dilihat dalam hubungan romantis. Adapun hari-hari yang tidak diperbolehkan melakukan hubungan romantis adalah

Hari- hari suci

Hari purnama maupun tilem

Tanggal ke-14 (prawani), yang dimaksud adalah sehari sebelum purnama/tilem

Pada hari datang bulan wanita untuk masa empat hari

Weton suami atau istri

Menurut ahli agama, Gde Pudja, M.A, dalam artikelnya, hubungan romantis dengan tujuan memperoleh anak suputra, sangat baik dilakukan pada hari ke-14 dan 16 terhitung dari hari pertama menstruasi karena akan dilahirkan anak laki yang teguh imannya, mulia, hormat pada orang tua, bijaksana, pandai, jujur, suci dan menjadi pelindung manusia pada umumnya. Kalau dibandingkan secara ilmiah hari ke-14 dan ke-16 sangat cocok karena pada waktu itu adalah masa subur. Menurut informasi lainnya disebutkan bahwa adapun cara lain untuk memperoleh anak laki-laki adalah dengan berdoa/sembahyang meminta anugrah kehadapan Ida Bethara Hyang Guru yang berstana di kemulan Rong Tiga di Merajan masing-masing.

Demikian artikel berikut ini, Apa yang di berikan oleh Ida Shang Hyang Widi Wasa harus kita patut syukuri, dengan kita berdoa dan bersembahyang pasti kita akan di berikan karunia seorang anak.

Inilah Alasan Hindu Tidak Mengenal Kata Haram


Inilah Alasan Hindu Tidak Mengenal Kata Haram, Karena Haram adalah istilah bahasa arab yang berarti 'terlarang'. Oleh karena itu mengacu ke sesuatu yang sakral yang aksesnya dilarang untuk orang-orang yang tidak dalam keadaan kemurnian atau yang tidak diinisiasi ke dalam pengetahuan suci tentang suatu kejahatan, tindakan berdosa yang di larang untuk dilakukan. Istilah ini juga menunjukan sesuatu yang disisihkan, setara dengan konsep saceri (lih suci) dalam Hukum dan agama Romawi.


Hindu tidak mengenal kata haram. Tetapi hindu memiliki aturan tentang apa yang dilarang dan diperbolehkan. Dalam kategori besar hal-hal yang diperbolehkan disebut dharma dan hal-hal yang dilarang disebut adharma. Dibawah kategori besar ini ada tindakan yang dikelompokan sebagai tri kaya parisuda (yang baik), tindakan-tindakan yang dilarang seperti sad ripu, sapta timira dll. Karena hindu bukanlah agama hukum, hal-hal atau tindakan-tindakan umumnya dikelompokan berdasarkan sifatnya, sesuai dengan konsep tri guna. Misalnya dalam pemberian (danam), ada pemberian yang bersifat sattva (diberikan kepada orang yang memerlukan hasil); rajas (diberikan karena pamrih terhadap hasil, kadang-kadang kalau pamrih tidak terpenuhi, pemberian itu ditarik kembali, dan tamas (diberikan kepada orang yang salah dan untuk tujuan yang salah). Kategori ini tidak berkaitan dengan benar atau salah, jasa atau dosa, tetapi pengaruhnya atas karakter si pemberi sendiri. Makanan juga dikelompokkan berdasarkan tri guna : makanan yang sattvik, rajasik dan tamasik. Ink tidak berkaitan dengan dosa atau bukan dosa, tetapi berkaitan dengan pengaruh dari makanan itu terhadap kesehatan badan, mental dan spiritual. Jadi pengelompokan ini lebih bersifat etis dan spiritual dari pada hukum.

Demikian artikel tentang hindu tidak mengenal kata haram ini saya buat, semoga bermanfaat dan menambah wawasan bagi para pembaca..suksma..

Duase Ayu Mulai Usaha

Dalam melakukan sesuatu yang bersifat khusus, biasanya orang Bali keraf berpatokan pada padewasan. Padewasan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari tatanan hidup orang Bali. Namun tak banyak yang bisa mencari padewasan paling tidak untuk dirinya sendiri. Sehingga lumrah meminta padewasan kepada orang yang dianggap sudah menguasainya. Di bawah ini akan diuraikan sedikit tentang Dewasa Ayu Untuk Memulai Aneka Usaha Dan Kegiatan.



Duase Ayu Mulai Usaha

Membuat Alat Penangkap Ikan : Kl.Jengking, Kl.Dangastra, Kl.Jengkang, Kl.Caplokan, Kl.Jangkut, Kl.Tiga Dungulan, Kl.Manguneb, Kl.Mina, Kl.Ngamut, Kl.Mapas, Kl.Rebutan, Kl.Susulan.

Membuat Sampan, Perahu, Kapal, Jaring. Corok Kodong, Dewa Ngelayang, Kl.Rebutan.

Membuat Aneka Barang Tajam dan Senjata. Kl.Timpang, Pemacekan, Kl.Pacekan, Aryang nemu Brahma, Kl.Aus, Kl.Bancaran, Kl.Beser, Kl.Caplokan, Kl.Jangkut, Kl.Dangastra, Kl.Gacokan, Kl.Keciran, Kl.Muncar, Kl.Muncrat, Kl.Rau, Kl.Kutila turun, Kl.Macan, Kl.Pati jengkang, Kl.Nanggung, Kl.Sapuhau, Kl.Sudukan, Kl.Wikalpa.

Membuat Alat Bunyi-bunyian: Kl.Geger.

Menganyam: Kl.Kilang-kilung,Kl.Atat.

Bakar Bata, Genteng, Keramik dll : Semua dewasa Geni. (Geni Rawana,Brahma dll).

Pindah Tempat Tinggal : Buda Kliwon, Penanggal, Tulus dan Dadi.

Membuka Usaha da Sarananya : Purna Suka,Sedana yoga,Amerta gati,Amerta Yoga,Ayu Nulus, Dauh ayu, Kl.Cakra, Kl.Gotongan, Kl.Rebutan, Kl.Raja, Tulus, Dadi. Hindari: Tali wangke, Kl.Mangap, Kl.Dangastra, Kl.Pati jengkang, Kl.Luang, Kl.Ngruda, Kl.Pegat.

Pelantikan Pejabat,Pengurus: Kl.Raja, Kl.Wisesa, Kl.Panyeneng. Hindari : Sasih Kasanga, Kl.Pegat, Kl.Suwung, Panglong.

Mengesahkan Peraturan/Awig-awig : Dauh Ayu, Ayu nulus, Kl.Panyeneng.

Melakukan Pertemuan Penting: KL.Ketemu,Kl.Ngunya,Kl.Panyeneng. Hindari : Kl.Pacekan, Kl.Pegat, Kl.Macan, Kl.Rau, Kl.Sudukan, Kl.Suwung, Titi buwuk.

Berobat Ke Dukun : Beteng, Kajeng, Agni agung, Patra limutan. Hindari : Kl.Pati

Meracik Obat dan Membuat Zimat Tengen : Kajeng Kliwon Enyitan, Purwani, Purnama, Kl.Miled, Kl.Lutung Magelut, Kl.Rau.

Pasang Guna-guna : Kl.Jangkut, Kl.Ngruda, Kl.Pati, Kl.Manguneb, Kl.Mapas, Kl.Tumpang, Patra limutan, Kajeng Kliwon uwudan, Tilem.

Berlatih : Tari, Tabuh, Beladiri : Suba cara. Hindari : Ingkel wong, Kl.Jengking, Wuku berisi tanpa guru.

Belajar Mantram/Buka Sekolah : Hari Senin, Rabu, Kamis, Penanggal ping 1 (siki ), Tutur Mandi, Tutut Masih, Dirga yusa, Suba cara, Dewa Ngelayang, Kl.Olih, Kl.Isinan. Hindari : Wuku berisi tanpa guru, Kl.M ertyu, Patra.

Memisahkan Bayi Menyusu: Beteng,Was,Kl.Pegat.

Memindahkan Orang Sakit: Hindari: Kl.Sudukan.

Bersenggama : Hindari : Kl.Mertyu, Kl.Ngruda, Kl.Pati, Kl.Pegat, Kajeng Kliwon, Purnama, Tilem, Anggara Paing, Redite Wage, Soma umanis, Anggara wage, Buda Kliwon, Wraspati Paing, Sukra Pon, Saniscara Kliwon, Dagdig Karana, Nuju Weton Lanang/Istri, Pati pata, Pati paten.