Jika Kita Pikir Hidup Kita Sulit, Coba Kita Lihat Orang Lain di Sekeliling Kita Dulu

Jika Kita Pikir Hidup Kita Sulit, Coba Kita Lihat Orang Lain di Sekeliling Kita Dulu

Apakah Anda sudah bershukur hari ini? Dalam hidup ini biasanya seseorang dihadapi fase yang membuat dirinya merasa hancur, harapan seakan tidak ada lagi. Sampai akhirnya, gak sedikit orang yang membiarkan masa depannya rusak begitu saja. Bahkan nggak jarang, pikiran buat mengakhiri hidup tersebut untuk dilakukan. Buat Anda yang millenials yang sedang berada di titik terendah atau belum pernah mengalami seperti foto diatas, coba deh pikir dan lihat di sekelilingmu, masih banyak yang mungkin lebih buruk kehidupannya daripadamu.

Saat Hatimu merasa hancur, Ingatlah bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkanmu sendirian. Masalah yang begitu berat memang membuat seseorang menjadi inferior. Anda mulai merasa tidak berharga dan tidak memiliki siapa-siapa. Padahal meskipun saat itu tak ada seseorang pun di sisimu., Kamu masih memiliki Tuhan. Tuhan merasakan perasaanmu, Tuhan memahami hatimu, Tuhan juga mendengar keluh dan kesahmu, walaupun ia tak terucap dan akan membukakan jalan untuk setiap hamba-Nya yang berdoa dan berusaha. Jadi, jangan merasa sendirian ya! 

Sesulit apapun hidup kita, tumpahkanlah perasaanmu pada seseorang yang kamu percaya dan memberimu jalan untuk menyelesaikan masalahmu, bukan yang membuat masalah baru lagi, teman, saudara atau orang tuamu. Dengan menumpahkan masalah pikiran hidupmu dengan orang yang kamu percayai dengan bercerita dan mencari jalan keluar. Cobalah, pasti kamu akan jauh lebih lega.

Dan coba lihat disekililingmu, masih ada banyak orang yang mungkin lebih jauh buruk kehidupannya dari padamu. Maka tetaplah bershukur dan berdoa agar Tuhan selalu memberikanmu jalan dan kehidupan dengan pikiran yang tenang. 

Apapun masalah Hidup yang Anda hadapi, ingatlah bahwa tidak ada masalah yang tidak mampu dipecahkan. Selama Kita selalu mampu memecahkan, selama kita berusaha dan berdoa, jalan akan selalu terbuka. Jadi, tetaplah Semangat!

Walau Kehidupan Ini Begitu Berat, Nggak Ada Alsan Untuk Tidak Tersenyum

Walau Kehidupan Ini Begitu Berat, Nggak Ada Alsan Untuk Tidak Tersenyum

Seberat apapun hidup itu, usahakan tetap tersenyum menjalaninya. Walau hidup itu keras dan berat, dengan tersenyum akan terasa ringan.

Jangan berputus asa untuk para generasi muda dan jangan pernah merasa gengsi untuk melakukan hal apapun selagi itu halal. Contoh dua nenek yang sangat tegar dan kuat menjalani hidup dengan jualan di pasar Ubud, Bali mereka tetap tenang dan bersemangat dalam mencari pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup mereka dan keluarganya.

Untuk kamu yang masih muda, jangan malu untuk melakukan hal apapun untuk menyambung hidup, apalagi disaat krisis Corona ini, semua karyawan di PHK termasuk saya. Tapi, saya tidak pernah putus asa, bangkit dan banting setir, jualan online.

Walau hidup ini begitu berat, nggak ada alasankan untuk tidak tersenyum? Ia, harus punya etikat dan keyakinan untuk memacu diri untuk tersenyum dan melakukan hal apapun untuk menyambung hidup.

Jangan berhenti dan Mengeluh Minta Bantuan

Malu Ama nenek-nenek yang semangat juangnya tinggi, tapi yang masih muda karena di PHK ngemis dan demo minta bantuan. Stop! Ayo kerja, banting setir. Jalani semua apa yang kamu bisa, jualan online, jualan makanan, jasa, atau apapun yang kamu bisa agar bisa tersenyum.

Mengeluh hanya membuat hidup kita semakin menderita, bangkit, dan semangat, jangan menyerah.

Nenek dua ini saja semangat kenapa kita yang muda mengeluh. Tetaplah tersenyum untuk memulai aktifitas apapun.

Jangan Sombong Saat Di Atas! Roda Kehidupan Terus Berputar

Jangan Sombong Saat Di Atas! Roda Kehidupan Terus Berputar
ilustrasi photo via liputanislam.com

Bershukurlah kamu yang saat ini bisa membeli semua keinginanmu, entah itu dari pemberian orang tua maupun hasil keringatmu sendiri. Tapi, jangan sekali-kali usil dan menyombongkan diri kepada teman yang tak mampu, sepertimu.

Karena harta itu hanya titipan saja. Kita tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya dari kehidupan ini, saya yakin seperti roda yang berputar, sekarang di atas, besok mungkin dibawah, maka dari itu janganlah sombong jadi orang.

Ingat, kesombongan akan membuat kita tidak disukai orang, itu benar adanya. Sekarang mungkin saja orang masih ingin berteman denganmu karena kamu masih memiliki uang, percayalah apakah saat kamu udah nggak ada uang apakah tamanmu akan tetap menjadi teman setia? Pasti tidak, mereka bukan mata duitan kok, justru mereka pergi karena kesombonganmu itu, maka dari itu belajarlah mengerti perasaan orang yang tidak mampu.

Uang, memang membuat segalanya menjadi kacau, uang juga membuat segalanya menjadi baik. Orang semua butuh uang agar bisa makan, apalagi dizaman globalisasi saat ini, uang sangat dibutuhkan, tetapi moral yang baik masih tetap diharapkan.

Jika peribadimu baik, biarpun kami miskin orang akan segan menghormati dan mengjunjungmu dan tidak mengenal apakah kau kaya atau miskin.

Hidup ini tidak bisa ditebak, sekarang kau memberi, mungkin besok kau meminta. Apapun bisa terjadi, karena roda kehidupan itu selalu berputar, pastinya.

Maka dari itu, jangan sombong jadi orang.

Teruntuk Sosok Tangguh yang Ku Sebut 'Ayah'

Teruntuk Sosok Tangguh yang Ku Sebut 'Ayah'
Ilustrasi photo via beritalima.com

Saat mendengar lagu Ayah yang sedang viral di media sosial, saya jadi ingat sosok ayah saya dan ingin menulis sepucuk surat lewat payanadewa ini.

Ayah sedang apa kau kini? Masih bergelut dengan rentetan kewajiban mencari uang atau menangis menahan siksa duniawi dengan keadaan sakitmu? Tenang ayahku sayang kau adalah pahlawan, kau berada dijalan yang benar, sakitmu mungkin tak mengenakan tapi percayalah dosaku berguguran karenanya.

Ayah, maafkan aku yang manja ini. Dalam keadaan yang begitu parahnya, kau harus berjuang begitu susah payah hanya agar aku dan kakakku dapat mencicipi bangku sekolah. Terima kasih ayah, kami sangat menyayangi ayah. Aku doakan agar kau dan Ibu mendapatkan umur panjang agar aku bisa membalas jasamu, walau tidak seperti yang kau lakukan.

Ayah aku ingat saat aku kecil dulu merengek minta mainan. Lalu dengan kerja keras kau tukar keringatmu dengan barang yang ku pinta. Trima kasih ayah berjanji saat aku sudah mendapatkan pekerjaan, aku akan menukar posisimu. Kita bertukar posisi, akan ku kabulkan semua keinginanmu. Aku berjanji ayah, saat kau dan ibu renta nanti, akan aku urus kalian dengan tanganku sebagaimana kalian telah mengurusku sejak kecil dulu.

Sekian dulu surat dari anak sulungmu ini, jangan terlalu memikirkan ku disini, aku bekerja jauh untuk kebahagiaan kalian sendiri, maaf untuk saat ini kalian menderita. Tak hidup mewah bukan berarti ayah gagal, karena bagiku ayah adalah ayah terbaik dimuka bumi ini yang mampu mendidik kedua anakmu ini menjadi berilmu dan berjiwa tegar. Semoga kelak jasa ayah dibalas dengan Hyang Widhi setimpal.

Atau mungkin lebih besar, Astungkara

Sayangilah Orang Tuamu, Jangan Samapi Saat Mereka Tiada Baru Kamu Menyesal



Halo semua kali ini saya akan membahas sebuah artikel yang menarik, baca sampai selesai ya biar mengerti dan tidak gagal paham.
Sayangilah Orang Tuamu, Jangan Samapi Saat Mereka Tiada Baru Kamu Menyesal


Setiap orang pasti merindukan sosok yang mampu menjadi teladan dan panutan dalam kehidupan sehari-hari. Sosok tersebut dapat kita temui melalui ayah dan ibu di rumah yang telah merawat dan menjaga kita mulai dari kecil hingga menuju ke puncak kesuksesan.

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sosok ayah maupun juga ibu tak luput dari kesalahan dan mungkin membuat kita sakit hati bahkan berniat untuk membenci mereka. Tapi apakah tindakan membenci orang tua merupakan suatu tindakan yang benar dan terpuji?

Mari kita bercermin perihal sikap yang harus kita tunjukkan terhadap orang tua baik itu ayah maupun ibu kita. Agama Hindu mengajarkan tentang bagaimana mengasihi orang tua dan tidak pernah sedikitpun menyinggung tentang membenci dan memusuhi orang tua. Justru sebaliknya, ketika perilaku membenci orang tua dilakukan maka akan ada suatu balasan atau dampak dari tindakan tersebut. Tidak ada agama di dunia ini yang mengajarkan bagaimana membenci orang tua.

Namun setiap agama pasti mengajarkan bagaimana mengasihi dan mencintai orang tua kita dengan sungguh-sungguh terlepas dari kelasahan yang mereka lakukan. istilah “baik buruk ayahku dia tetap pahlawanku, baik buruk ibuku dia tetap surgaku” mau menggambarkan kepada kita semua bahwa bagaimanapun keadaan orang tua kita. Mestinya kita harus tetap menghargai dan menghormati mereka sebagai utusan Tuhan dalam hidup kita masing-masing.

Setiap manusia pasti pernah melakukan dosa dan kesalahan termasuk kedua orang tua kita, namun kita dianjurkan untuk memaafkan beliau. Sayangi orang tuamu, hormati orang tuamu, bahagiakan orang tuamu.

Pasti akan ada saatnya nanti kamu akan berpisah dengan mereka selamanya, dan semoga perpisahan itu tidak meninggalkan bekas dan luka sehingga membuatmu tidak bisa memaafkan diri sendiri.




Tak Perlu Kaya Untuk Sebuah Kesetiaan, Tak Perlu Mewah Untuk Sebuah Kebahagiaan


Tak Perlu Kaya Untuk Sebuah Kesetiaan, Tak Perlu Mewah Untuk Sebuah Kebahagiaan
ilustrasi photo via https://www.facebook.com/InspirasiKehidupan/

Menjalin suatu hubungan sampai ke jenjang pernikahan merupakan hal yang sungguh-sungguh diantara dua insan manusia yang saling mencintai. Namun, perlu di ingat bahwa pernikahan itu bukan untuk hanya sehari dua hari saja. Tetapi pernikahan itu adalah anugrah. Jadi, susah, senang, suka maupun duka harus dijalani bersama.

Mungkin petuah ini sudah  disampaikan secara turun-temurun kepada pasangan pengantin oleh orang tua sebagai persiapan melangkah dalam menjalani kehidupan berumah tangga.

Kesetiaan Itu Sederhana


Seharusnya semakin lama usia pernikahan, biasanya semakin banyak pula ujian dalam menjalani kehidupan berumah tangga yang memerlukan kesabaran tingkat tinggi. 

Dasar sebuah hubungan adalah cinta dan kasih sayang. Tak perlu kaya untuk sebuah hubungan yang setia, karena menjalani kehidupan dengan pasangan yang tercinta dan keseharian penuh warna adalah impian semua insan manusia. Mungkin semua orang ingin hidup kaya dan bahagia, tetapi beberapa fakta setelah mapan dan kaya pasangan itu pisah, terbukti uang bisa membuat hubungan retak. Beda halnya dengan pasangan yang benar-benar mencintai dan membangun ekonominya dari 0 dan apa adanya. 

Kebahagiaan Itu Tak Perlu Mewah

Untuk sebuah kebahagiaan mungkin bisa dinilai dengan Uang, tetapi uang juga bisa menghancurkan hubungan rumah tangga, kecuali hubungan yang betul-betul setia dan saling menyayangi. Maka dari itu, jika suatu hubungan sudah saling memahami dan pengertian, maka kebahagiaan itu tak harus kaya. 

Hidup ini bukan hanya soal harta dan kekayaan, tetapi menjalani hubungan kehidupan berumahtangga dengan saling pengertian dan saling mensuport itu adalah yang terbahagia. 

Harta bisa dicari bersama, tetapi kebahagiaan yang utama. 

Jika Hatimu Sudah Ikhlas, Maka Seburuk Apapun Hal yang Datang Tidak Akan Membuatmu Lemah dan Menyerah

Jika Hatimu Sudah Ikhlas, Maka Seburuk Apapun Hal yang Datang Tidak Akan Membuatmu Lemah dan Menyerah


Begitu juga dengan keikhlasan, tatkala hatimu sudah terbiasa dengan rasa ikhlas, maka tentu seburuk apapun hal yang datang tidak akan membuatmu lemah dan menyerah.

Ketika ikhlasmu sudah memenuhi hati, maka pasti masalah sesulit apapun yang datang menyapamu, tentu kamu akan tetap tenang karena pasti keyakinanmu kepada Hyang Widhi selalu tinggi.

Kamu Akan Mudah Berlapang Dada, Tatkala Dari Awal Sudah Mampu Membidik Hati Dengan Ikhlas

Bukan cuma itu, kamu akan mudah berlapang dada tanpa tapi, tatkala dari awal sudah mampu membidik hatimu dengan sabar dan ikhlas.

Maka dari itu, sesulit apapun melatih hati dengan rasa sabar dan ikhlas, jangan pernah kamu menyerah, karena sungguh belajar bersabar dan ikhlas itu memang sangat menguji batin.

Karena Kamu Akan Tetap Baik-baik Saja Jika Sabar dan Ikhlasmu Terjaga

Oleh karenanya, jangan pernah menyerah pada keadaan meski hal tersebut sangat menyakitimu, kamu harus tetap kuat menekan hatimu untuk bisa bersabar dan ikhlas.

Sebab tidak peduli dalam keadaan yang paling menyiksa sekalipun, dalam masalah yang amat besar sekalipun, pasti kamu akan tetap baik-baik saja jika sabar dan ikhlasmu senantiasa memenuhi hati.

Bahkan Semua Hal Tidak Mengenakkan Akan Bisa Membuatmu Tetap Tenang, Tatkala Sabar dan Ikhlasmu Memenuhi Hati

Jadi penting sekali untuk siapapun kita belajar caranya menangkan hati dengan kesabaran dan keikhlasan, lebih-lebih kamu yang saat ini tengah dalam takdir-Nya yang tidak kamu sukai, karena saat kamu bersabar dan ikhlas maka disitulah kamu akan tetap tenang.

Maka Sebesar Apapun Masalah yang Datang Kepadamu Tidak Akan Serta Merta Kamu Keluhkan Bila Hatimu Sudah Sabar

Sungguh ketika hatimu sudah terbiasa bersabar, terbiasa lapang hati, maka sebesar apapun masalah yang datang kepadamu tidak akan serta merta kamu keluhkan.

Sesedih apapun rasa yang melanda, kamu tentu akan tetap baik-baik saja menjalani hidupmu, jika dari awal sabar sudah menjadi andalanmu dalam menjaga hati.

Lantas Bidik Hatimu Dengan Rasa Sabar dan Ikhlas, Agar Mudah Bagimu Menyimpan Hal-hal yang Tidak Mengenakkan

Selalu bidiklah hatimu dengan rasa sabar dan ikhlas, selalu ajarkanlah hatimu untuk selalu bisa bersyukur, agar mudah bagimu menyimpan hal-hal yang tidak mengenakkan.

Karena jika kamu sudah terbiasa menjaga hatimu dengan penuh sabar dan ikhlas, maka disitulah kamu akan selalu legowo dan lapang dada atas hal buruk yang telah Ida gariskan menjadi takdirmu.

Lebih Baik Dibenci Karena Kebenaran Daripada Dicintai Tapi Karena Kepalsuan

ilustrasi photo via kompasiana.com


Banyak orang kurang berani menegakkan dan mengatakan kebenaran. Agar orang lain tidak sakit hati, banyak orang lebih memilih membiarkan hal-hal yang tidak benar, demi sebuah hubungan tetap nyaman, banyak orang lebih memilih diam dan tidak mencampuri keputusan dan perbuatan orang lain yang salah.

Selain itu, beberapa alasan kenapa orang bungkam mengatakan kebenaran:
  • Zona nyamannya terganggu
  • Tidak tahu bagaimana mengatakannya
  • Takut karirnya menurun (lebih baik jadi penjilat, sekalipun nurani menjerit, apalagi kalau karir lagi naik-naiknya, apalagi kalau sedang mengincar kursi tertentu yang ujung-ujungnya duit)
  • Tidak siap dijauhi
  • Tidak siap dibenci
  • Takut tidak punya kawan
  • Takut di bilangin macem-macem, dan lain sebagainya


Parahnya bahkan ada yang berprinsip ‘lebih baik berbohong atau diam, daripada mengatakan kebenaran yang berakibat dirinya dibenci’.

Sebagai umat beragama seharusnya kita berani berkata benar. Dikucilkan, diremehkan dan diacuhkan adalah risiko seorang yang berjuang demi mewartakan kebenaran.

Lebih baik mempunyai sedikit teman tapi mengatakan kebenaran, daripada mempunyai banyak teman tetapi menyimpan kebohongan dan mendiamkan kebenaran.

Jangan pernah takut mengatakan yang benar, percayalah pada janji Tuhan : “Mereka akan memerangi engkau, tetapi tidak akan mengalahkan engkau, sebab Aku menyertai engkau dan untuk melepaskan engkau”