Segara Tanah Lot, Angin Ngelinus dan Hujan Sambut Ida Betara Luhur Batu Karu


Segara Tanah Lot, Angin Ngelinus dan Hujan Sambut Ida Betara Luhur Batu Karu

Sugra Ratu Sesuhunan Batu Karu, Panjak Ida driki. Setelah menempuh perjalanan panjang dengan berjalan kaki kurang lebih 45 Kilometer dari Pura Luhur Batukau, Desa Wongaya Gede, Kecamatan Penebel, Tabanan, Rabu ( 29 Januari 2020).

Akhirnya iring iringan ribuan umat Hindu yang ikut dalam upacara melasti Ida Bethara Luhur Batukau dalam rangka Karya Agung Pengurip Gumi tiba di segara Pura Luhur Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan, Kamis ( 30 Januari 2020).

Yang menarik sebelum Ida Bethara Luhur Batukau tiba di segara Pura Luhur Tanah Lot sekitar pukul 15.30 Wita tiba tiba angin ngelius terjadi di tengah laut tepatnya di sebelah barat Pura Luhur Tanah Lot. Angin tersebut berputar keatas sangat jelas terlihat ketika air laut ikut memucrat keatas diputar oleh sang angin. Kejadian yang berlangsung sekitar empat menit itu membuat pemedek dan pengiring bangun dari tempat duduk menyaksikan penomena alam tersebut.

Perlahan angin tersebut mengarah ke timur lalu menghilang. Tak berselang lama iring iringan Ida Bethara Pura Luhur Batukau tiba di segara Pura Luhur Tanah Lot. Selain disambut kerauhan dari pemedek, kedatangan Ida Bethara Luhur Baktukau juga disambut rintik rintik hujan. Semakin lama hujan semakin deras dan lebat.

Meskipun hujan lebat tidak menyurutkan pemedek mengiringi Ida Bethara Pura Luhur Batukau. Ni Wayan Ani (38) Salah satu warga Abiantuwung, Kediri rela basah kuyup menyaksikan kedatangan Ida Bhatara Pura Luhur Batukau. “Biasanya saja kena hujan sedikit, langsung puruh (sakit kepala ).

Sekarang demi Ida Bhatara Pura Luhur Batukau saya siap basah kuyup hujan hujanan,” jelasnya. Ia pun berharap ngiring Ida Bethara Batukau ke segara Tanah Lot bisa menyembuhkan penyakitnya. “Saya berdoa dan berharap sakit yang saya derita ini sembuh. Saya memohon kepada sesuhunan Ida Bethara Pura Luhur Batukau, agar saya sembuh,” jelasnya. Setelah semua iring iringan Bethara Pura Luhur Batukau tiba kemudian dimulai rangkaian upacara.

Mulai dari Melabuh Gentuh, Padudusan Agung, Mapekelem, dan munggah ke Pura Luhur Tanah Lot. Sekitar pukul 20.30 prosesi upacara di Pura Luhur Tanah Lot selesai dan iring iringan Ida Bethara Luhur Batukau kembali ke Pura Luhur Batukau melintasi jalur yang sama saat berangkat sepanjang kurang lebih 45 Kilometer.

Sumber: Balitopnews.com 

Ngidih Pelih, Arti dibalik Permohonan Maaf Orang Bali



Hidup didunia ini sebagai manusia biasa tindakan dan perkataan dipastikan dipastikan memiliki beribu kesalahan baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri.

Saat kita menyadari kesalahan yang kita perbuat, pasti kita memohon maaf kepada orang yang merasa tersinggung atau pun dirugikan.

Pastinya permohonan maaf yang tulus diutarakan dengan sepenuh hati maka orang tersebut akan dimaafkan.
Karena, sesama manusia yang hidup berdampingan patut menerima kesalahan dan kekurangan kita. Seperti pepatah Bali mengatakan “Tan Hana Ewang Swasta Nulus”. Ungkapan kata mutiara tersebut yang sering kitq terdengar itu hanya untuk mempertegas. Karena, Orang Bali meminta maaf kebanyakan hanya dengan kata ampura yang sering dikatakan di dalam konteks komunikasi antara orang pertama dengan orang kedua yang lebih dihormati.

Apabila pada saat mengucapkan kata ampura atas kesalahan, orang kedua memaafkan dengan balasan nggih ten kenapi, selesai.

Biasanya percakapan yang seperti itu terjadi karena kesalahan kecil. Seandainya yang terjadi kesalahan yang lebih serius dan melukai hati orang lain, mungkin kata ampura saja tidak cukup.

Nah,ada lagi satu kata permohonan maaf orang Bali yaitu ngidih pelih. Permohonan maaf ini yang diartikan lebih dalam. Bisa dikatakan seperti itu.

Yang kedua kata tersebut memang sama-sama diartikan dengan “mohon maaf”. Akan tetapi, bahwa tidak semudah itu dapat disamakan. Walaupun diterjemahkan dengan istilah yang sama, keduanya hadir dalam situasi yang bertolak belakang. Selain itu juga ditentukan oleh hubungan si pelibat percakapan.

Jika kata ngidih pelih dibedah secara harfiah maka arti yang didapatkan adalah “minta salah”.

Ada apa gerangan meminta kesalahan?

Ternyata bukan kata maaf saja yang diminta di dalam konteks percakapan tersebut melainkan memohon kesalahan yang ia perbuat agar dikembalikan pada dirinya sehingga orang yang tersakiti tidak terbebani oleh kesalahan yang terjadi walaupun tidak sepenuhnya dapat memperbaiki keadaan.

Kata permohonan serius seperti diatas tersebut dapat dikatakan sebagai penerimaan atas kesalahan diri dan permohonan kekurangan diri.
Inilah karakter Orang Bali.

Kata ngidih pelih tidak muncul dengan mudah dari mulut setiap orang yang bersalah terhadap orang lain.

Jika dampak dari kesalahan tersebut dirasa sangat merugikan maka istilah tersebut mewakili rasa penyesalan yang dalam dan introspeksi yang tulus. Hal itu tidak akan terjadi jika tidak ada kedekatan hubungan antara keduanya. Dengan kata lain, ucapan ngidih pelih hadir di antara hubungan kekeluargaan baik dalam kontek kekerabatan mapun persahabatan. Pihak yang dirugikan pastinya menerima permohonan tersebut walaupun di dalam hatinya masih menyimpan rasa sakit dan duka.

Permohonan maaf seperti itu menyiratkan konsep sosial masyarakat Bali yaitu manyama braya yang menjunjung tinggi nilai kekeluargaan yang kuat. Walaupun di dalam hubungan bermasyarakat yang selalu ada rasa kecocokan maupun ketidakcocokan, orang Bali tetap menanamkan rasa kepedulian dan toleransi yang tinggi.

Saling memaafkan satu sama lain memang menjadi tali penguat jalinan persaudaraan.
Tetapi, sikap tersebut patutnya juga menjadi hal yang memberikan penyadaran untuk berhati-hati dalam bersikap dan bertingkah laku agar tidak merugikan orang lain baik sengaja maupun tidak disengaja.

Inilah pentingnya bahasa dalam menunjukkan kualitas diri orang Bali.

Bahasa tidak hanya media penyampaian pikiran tetapi juga penjalin suatu kedekatan mental dan emosional dalam menyatukan fisik yang terpisah menuju pengertian ideasional.

Bahasa Bali yang pluralis memberikan ruang kebebasan yang terkendali menuju kesopanan dan kesantunan.
Karakter yang kental dari orang Bali.

Ngidih pelih mewakili kesantunan dan wujud intropeksi diri manusia Bali.

Itulah mulat sarira, penyadaran ke dalam diri.

Memohon Anak Laki-laki Dengan Canang Yase

Anak merupakan harta yang tak bisa dinilai dengan apapun. Jika pasangan yang sudah menikah pasti ingin pempunyai keturunan. Banyak yang mengharapkan anak-laki-laki terutama orang Bali. 
Orang Bali yang sudah menikah dan kabanyak diantaranya mengharapkan anak laki-laki, dari sebab itulah diantaranya sampai mempunyai anak lebih dari 5, karena 4 dari anak mereka adalah anak perempuan. Kenapa?

Di Bali anak laki-laki merupakan sebagai penerus, kalau orang Bali bilang (Ngaliang Jalan Pas Sing Nuu) mencarikan jalan disaat ayah/orangtuanya meninggal, karena proses dari upacara ngaben ini termasuk prosesi yang panjang. Untuk itu, anak laki-laki sangat diharapkan oleh kebanyakan masyarakat Bali. 

Cara dan Memohon Anak Laki-laki

Disini saya mau sedikit bercerita tentang yang saya alami, 2 tahun menikah dan belum juga dikarunia anak, saya nggak berharap anak saya laki-laki maupun perempuan, saya hanya berharap mempunyai anak normal dan sehat. 

Dari pertama keguguran, karena istri diprediksi ada karker rahim jadi pas saat itu hamil, tetapi apa boleh buat, tejadilah keguguran. Dan selanjutnya menangani kaker rahimnya, kebetuan kangkernya tidak ganas, tetapi, perlu proses penyembuhan dari oprasi yang tidak diangkat, hanya di garuk, kata medikalnya. 

Darisitu saya mungkin sudah putus asa, apalah, tapi yang namanya nenek, ibu saya pasti mengharapkan cucu. 

Saat itulah ia teringat oleh kakaknya yang selalu memohon anak laki-laki dengan canang yase. 

Iwak (kakak dari ibu saya) ia berumur saat itu 40 tahunan dan sudah dikaruniai anak perempuan 4 dan anak-anak mereka sudah besar-besar yang paling besar mungkin sudah bekerja pada saat itu, karena jaman dulu orang Bali kebanyakan menikah umur kecil-kecil. Saat itulah iwak saya memohon agar dikaruniai anak laki laki. 

Silakan tonton Video Cara Membuat Canang Yase dibawah. 

Canang Yase tersebut diaturkan diatas bantal tempat tidurnya dan selalu memohon kepada leluhur agar numitis (renkarnasi) sebagai anak. 

Dan setelah 1 bulan iwak saya itu hamil tentunya harus berhubungan suami-istri. Dan ternyata iwak saya dikaruniai anak laki-laki, anak itu sekarang sudah berumur 24 tahun. 

Nah, kembali lagi dengan ibu saya, dia setiap hari membuat canang yase dan menghaturkannya di Bhetara Hyang Guru, dimerajan agar betara kompiang menumitis sebagai anak saya, cucunya. 

Ternyata kenyataan yang tak terduga setelah 7 bulan dari istri saya oprasi karena kanker rahim, dia hamil dan mengandung anak laki-laki. Anak saya sekarang berumur 3 tahun Astungkara. 

Nah, itu sedikit cerita saya yang berharap mempunyai anak walaupun tidak berharap laki-laki. Saya percaya adanya tuhan, merajan, dan sembahyang. Orang Bali, warisan leluhur patut di tiru dan dijalankan.  

Jual Blog Murah Langsung Pakai


Apakah Anda ingin memiliki sebuah blog? Tapi bingung gimana cara membuatnya! Mau belajar proses dan caranya sama payanadewa.com tapi nggak punya waktu banyak. Bahkan untuk mengedit template juga susah jika tidak mempunyai leptop atau komputer.


Ini merupakan alasan kenapa banyak yang gagal saat ingin menjadi penulis blog. Tergadang juga rasa takut lebih besar daripada keyakinan diri. Dan disinilah perlu bantuan seseorang. 



Nah, payanadewa.com hadir untuk Anda yang ingin memiliki sebuah blog seperti ini. Tanpa perlu Anda repot-repot untuk seting Domain, Template, bahkan edit HTML.

Ada Jasa Selain Jual Blog, Payanadewa.com juga Menyediakan Pasang Iklan di Blog Ini

1. PAKET 200.000

Untuk paket yang paling pertama Anda mendapatkan:
  • Pembuatan Blog Gratisan
  • Template Premium seperti Blog ini
  • Pembuatan Contact, Privacy dan Disclaimer
  • Pendaftaran Webmaster Toll supaya nongol di Google
  • Gratis 5 artikel
  • Dipandu 1 minggu


2. PAKET 500.000

Untuk Paket yang kedua Anda dapat memperoleh beberapa fasilitas seperti:
  • Pembuatan Blog TLD (Com)
  • Template Premium seperti Blog ini
  • Pembuatan Contact, Privacy dan Disclaimer
  • Pendaftaran Webmaster Toll supaya nongol di Google
  • Gratis 5 artikel
  • Dipandu 1 minggu


3. PAKET 800.000

Untuk Paket yang ke 3 Anda mendapatkan fasilitas seperti:
  • Pembuatan Blog TLD (Com)
  • Template Premium seperti Blog ini
  • Pembuatan Contact, Privacy dan Disclaimer
  • Pendaftaran Webmaster Toll supaya nongol di Google
  • Gratis 10 artikel
  • Dipandu tanpa batas waktu


Payanadewa.com juga menyediakan Blog Toko onlinne seperti www.belajarmembuatbantenupakarabali.com itu merupakan hasil dari saya. 

Bagaimana apakah tertarik dengan jasa yang saya sediakan diatas? jika tertarik silakan hubungi saya melalui kolom dibawah.
Nama :Alamat Email * :Isi Pesan * :

Upakara Pemarisudha Prawesa Pekarangan kemasukan Ular


Upakara Pemarisudha Prawesa Pekarangan kemasukan Ular

Upakara Pemarisudha Prawesa Pekarangan kemasukan Ular

Beberapa hari ini masyakarat khususnya di Bali sering ada kejadian, dinama rumah/paumahan kemasukan ular, kadang ular tersebut berada di tempat tidur, ular didalam almari/bupet, ular di kamar mandi, dan tempat lainnya di dalam rumah.

Banyak sekali ada kejadian seperti ini dan bahkan sering terjadi di masyarakat Bali, tetapi kebanyakan hanya mengandalkan logika dengan cara menaburkan garam di sekitar bangunan (rumah), tetapi nyatanya kedatangan ular lagi dan lagi terjadi terus-menerus.

Jika kita pikirkan hal seperti ini dengan logika sehat, bahwa seekor ular sesungguhnya bertempat disemak belukar atau di pohon-pohon, tapi kenyataannya berada didalam rumah.

Cara Mengatasi Ular Masuk Rumah Versi Pemarisudha Prewesa

Coba kita abil dari kejadian ini hendaknya kita tidak memakai logika lagi, sudah waktunya memakai srada kembali kepada kekuatan alam dengan cara mempercayai dan meyakinkan dengan petunjuk sastra Agama Hindu Bali, yakni Lontar Tutur Sang Hyang Eka Bhuana, bahwa alam memberikan isyarat kepada manusia, karena pekarangan yang demikian adalah termasuk pekarangan angker, sehingga auranya dapat mempengaruhi jiwa orang yang menempati pekarangan tersebut, dapat mengakibatkan selalu munculnya perselisihan antar anggota keluarga sehingga sering muncul keributan, sering menyebabkan keadaan boros atau menemukan marabahaya, oleh karena itu pekarangan yang demikian perlu dibuatkan suatu upacara untuk menetralisir keangkerannya.

Upakara Pemarisudha Prawesa Ular

Mengenai dari upakara pemarisudha adanya prawesa karena adanya ular, dilihat dari dimana ular tersebut ditemukan diantara tri mandala;
  • Jika ditemukan di uttamaning mandala, pemarisudha dilaksanakan ditengah halaman pamerajan
  • Jika ditemukan ular di madyaning mandala, pemarisudha dilaksanakan ditengah halaman pekarangan/paumahan.

Upakaranya sebagai berikut:

Upakara di sanggah kemulan:
  • Banten Pejati
  • Ngajum tirtha 

Upakara di tempat upacara:
  • Banten pejati asoroh
  • Ngajum tirtha
  • Banten sesayut durmengala
  • Segehan sasah warna hijau 11 tanding, ditanding diatas sebuah alat sidi
  • Nasi harus poleng menyerupai ular, beralaskan daun telunjungan (ujung daun pisang udang sabha), berisi bawang jae garam, telor ayam mentah, arak dan berem, masing-masing dialas dengan takir prayascita, dan bayakawonan.

Tata Cara Upacara Pemarisudha Prawesa Ular

Untuk melaksanakan upakara ini, selalu harus menggunakan dewasa ayu, seperti “Kajang Kliwon Uwudan”. Ngastawa kehadapan sang hyang Siwa Raditya sebagai pesaksi, mantra:

Ong aditya syaparanjotir, rakta teja namas tute, sweta pangkaja madyaste, baskara ye namah swaha. ong hrang hring sah parama siwaditya ye namah swaha

Pangestawa kehadapan Bhatara Siwa Druwa resi, mantra:
Ong, na, ma, si, wa, ya, ang, ah, ong, ing, siwa druwa resi maha sidhi ya namah swaha

Sesontengan Saa:

Om pakulun sang hyang siwa raditya, sang hyang wulan lintang tranggana, meraga sang hyang triodasa saksi, sang hyang siwa guru, sang hyang siwa druwa resi, saksinin manusanira angaturaken tadah saji pawitra sprakaraning daksina, anyenengana bethara kabeh, manusanira kekeneng prawesa durmengala ring paumahan ipun marupa ula, mangke manusanira anadaha tirtha panglukatan, sehananing prawesa durmangala ring paumahan muah ring sariran ipun sang

Adruwe umah. Asung kertha nugraha bhetara ngeyogani pinunas manusanira mangda luput ring sarwa lara wigna, matemahan menadi amertha urip waras dirgayusa
Om sidhi rastu ye namah swaha

Mantra Laban:

Sa, ba, ta, a i,sarwa bhuta ya namah swadaNdah ta kita sang bhuta prewesa-prawesi, sang bhuta durwesa-durwesi, sang bhuta durmengala, sang bhuta widura sandhi, maka kala wadwan sira kabeh, mari sira mona, apan sira manadi utusan hyang siwa ruwa resi arpa ula, mangke ingsun paweh sira tadah saji sanggraha, iki tadah sajinira, ngeraris amukti sari, wus amukti raris sumurup sira menadi widyadara-widyadari, aluara sira sakeng paumahan muah sariran ingsun sang adruwe umah, paweha ingsun urip waras, dirgayusa ring kahuripan. ong ing namah. 

Ong bhuktyantu durga ketara, bhuktyantu kala mewaca, bhuktyantu sarwa bhutanam, bhuktyantu pisace sanggyem. Ang...Ah, mertha bhuta ya namah swada, Ang, Ung, Mang, siwamertha ya namah swada

Prelina bhuta mantra:

A, Ta, Sa, Ba, I, Sarwa bhuta murswah wesat, Ang...Ah

Setelah pangastawa tadi, langsung mengucapkan mantra pesucian, mantra:

Ong jalasidhi maha sakti, sarwa sidhi maha tirtha, sarwa tirtha manggala'ya, sarwa papa minasaya, ong sriyam bhawantu, ong sukham bhawantu, ong purnam bhawantu

Sesudah ngaturang tirtha pasucian tersebut, baru percikan tirthanya. namun kalau tidak memakai mantra cukup mencipratkan (memercikan) tirtha penglukanan dari sulinggih saja. percikan tirtha ke seluruh rumah dari sanggah pamerajan sampai ke pintu gerbang (angkul-angkul) dan lebuh;

  • Durmengala bayekawonan
  • Prayascita
  • Tirtha kemulan
  • Tirtha hyang siwa druwa resi

Kemudian ngayabang Banten Pejati, mantra:

Ong hyang angadakaken sari, ong hyang anyumputaning sari, ong hyang angisepaning sarining yadnya lunga-sari-teka-sari (3x) ang ah amertha sanjiwani ye namah swaha ang, ung, mang, siwamertha ye namah swaha.

Kemudian tetabuhan arak berem pada laban tersebut, dengan tata cara:

Berem, kemudian arak (pinaka upethi) Tirtha (pinaka nyomia / stiti)
Arak, kemudian berem (pinaka prelina) pengerstawa kehadapan bhatara hyang guru.

Kemudian memohon penugrahan, mantra:

Ong anugeraham manuharam, dewa datta nugerahakem, yarcanam sarwa pujanam, namah sawra nugerahakem, dewa-dewi maha sidhi, yadnya khartem mulat midem, laksmia sidhis'ca, dirgahayu nirwigna suka werdhi tah

Percikan tirta-tirtha ini ke sanak keluarga:

  • Durmengala
  • Bayekawonan

Prayascita

Sesudah itu, sanak keluarga melakukan persembahyangan bersama sesuai "kramaning sembah". Tunasang tirtha kepada sanak keluarga: tirtha kemulan, tirtha hyang siwa druwa resi. ngayab laban. setelah itu, tempatkan laban pada tempat pertama dilihat ular tersebut, ditutup dengan sangkar ayam/keranjang, biarkan satu malam, keesokan harinya diletakkan di depan angkul-angkul (lebuh), taburkan arak kemudian beremnya. sorenya sudah bisa dibuang.

Versi Lontar Bhama Kertih

Isi dari Lontar Bhama Kertih, pekarangan yang dimasuki ular dapat dikatakan karang panes. Untuk menanggulangi efek negatifnya, dibuatkalah palinggih Indra Blaka di luar rumah.


Demikianlah acara upakara untuk pekarangan kemasukan ular, perumahan kemasukan ular, ular di kamar mandi, ular di kamar tidur, ular di rumah, Perumahan atau pekarangan kemasukan Ular. semoga bermanfaat.

Banten Otonan dan Cara Meotonan Yang Benar


Bagaimanakah tata cara yang benar saat ‘ngotonin’? Pertanyaan seperti ini sering sekali muncul dari orang tua terutama ibu-ibu muda yang akan meotonan anaknya. Seperti, apa sajakah bantennya, dan bagaimanakah langkah-langkah membuatnya, dan siapa sajakah yang boleh “meotonan”.

Bahan-bahan Persiapan Banten Otonan

Penggunaan Banten sebenarnya fleksibel, namun beberapa masyarakat menggunakan banten seperti tumpeng telu dan tumpeng lima. Pada banten tumpeng lima berisi banten : Pengambean Dapetan Peras Pejati Sesayut Segehan Sarana-sarana lain seperti, Bija, Dupa, Toya Anyar, Tirta Pelukatan, dan Tirta Hyang Guru.

Tahapan-tahapan Sebelum memulai, sang ibu wajib ngayab (menghaturkan) banten kehadapan Sang Hyang Atma. sebagai pertanda bahwa inilah hari dimana beliau manumadi (menjelma). Dilanjutkan menghaturkan Segehan ring sor ( bawah ) bale atau tempat anaknya me’otonan’. Memohon kepada Sang Hyang Butha Kala agar prosesi berjalan lancar, terbebas dari mara bahaya. Selanjutnya ritual otonan dapat dimulai.

Pertama-tama adalah mesapuh-sapuh, yaitu mengusap telapak kanan anak dengan Buu, dimulai dari tangan kanan kemudian tangan kiri, diiringi dengan sesontengan

Cening-cening ne jani mesapuh-sapuh, apang ilang dakin liman ceninge, apang kedas cening ngisiang urip’

Dilanjutkan mengusap dengan toya anyar. Mesapuh-sapuh bertujuan untuk menghilangkan mala atau leteh pada badan kasar yang bersangkutan. Dilanjutkan dengan masegau atau matepung tawar, yaitu mengusap kedua tangan yang bersangkutan dengan don dapdap.

Cening-cening ne jani masegau, suba leh liman ceninge melah-melah ngembel rahayu’

Selanjutnya yang bersangkutan diberi tirta pelukatan. Maknanya adalah, menyucikan, menetralisir kembali Sang Hyang Atma. Agar jiwa yang bersangkutan senantiasa suci, melah (baik), ngembel (dalam genggaman) dan rahayu (keselamatan).

Dilanjutkan dengan Matetebus. Ambil dua helai benang, pertama diletakan di atas kepala sisanya dililit dipergelangan tangan kanan yang bersangkutan, diiringi sesontengan.

Cening-cening ne magelang benang, apang ma uwat kawat ma balung besi.

Video Cara Membuat Banten Otonan bisa simak dibawah: 

Banten Otonan Sederhana 

Banten Otonan Tumpeng 5 

Banten Otonan Tumpeng 7 


Setelah itu yang bersangkutan diberi tirta Hyang Guru. Ini memiliki makna agar yang bersangkutan memperoleh kesehatan dan keselamatan lahir batin, selalu diberi perlindungan oleh sang pencipta.

Yang terakhir adalah Ngayab Sesayut diputar 3 kali searah jarum jam diiringi sesontengan

Nah jani cening ngilehang sampan, ngilehang perahu, batu mokocok, tungked bungbungan, teked dipasisi napetang perahu bencah”.

Banten pengenteg bayu tersebut bermakna untuk memohonkan agar yang bersangkutan tetap pendirian serta berkepribadian stabil (tidak labil) didalam menjalani kehidupannya.


Tujuan yang dapat diperoleh dari meotonan antara lain, diawali Masesapuh, yakni pembersihan badan kasar dari segala leteh atau mala. 

Kemudian Matepung tawar/Masegau, sebagai sarana untuk menyucikan kembali jiwa atau Sang Hyang Atma, lalu menghubungkan serta menguatkan kembali badan kasar dengan Sang Hyang Atma melalui benang tebus, dan diakhiri dengan mestabilkan pikiran (Ngayab sesayut pengenteg bayu).

Cara Belajar Ngeleak, Budaya Bali

Sisya/Murid yang Belajar Ngeleak: Contoh Gambaran Cara Belajar Ngeleak, Budaya Bali

Om, Swastyastu... 

Ilmu pengeleakan dapat diwariskan melalui tiga cara atau proses yaitu: melalui keturuan / genetik, dengan proses belajar dan membeli. Bagi yang memiliki genetik tidak memiliki keturunan ngeleak, maka pilihannya ada dua yaitu belajar atau membeli.

Untuk yang memiliki opsi ngeleak pilihannya adalah ngelakoni (menjalankan) atau hanya sebatas nyungsung saja.
Sebelum mempelajari Ilmu pengelaeakan ini, guru akan memberikan pentunjuk terlebih dahulu dan harus diketahui otonan murid tersebut (hari lahir versi Bali) hal ini sangat penting, agar murid tidak celaka oleh ilmunya sendiri. Setelah diketahui barulah proses belajar Ngeleak dimulai.

Pertama-tama murid harus mewinten Brahma Widya, dalam bahasa Lontar Ngerangsukang Kawisesan dan hari baikpun diterima oleh sang nabe (guru). Tahap dasar siswa dimulai dengan Aksara Wayah (Modre), dalam hal ini aksara ini tidak dapat dieja karena merupakan aksara baku.

Selajutnya murid di-rajah pada seluruh tubuh dari atas sampai bawah oleh sang guru, hal ini dilakukan di Setra (kuburan) pada saat hari Kajeng Kliwon Enyitan.
Pertama murid memutuskan untuk “nyungsang idep” yaitu membalikan pikiran, semua hal yang tidak baik harus dipikirkan menjadi yang baik, begitu juga sebaliknya, biasanya ritual ini dilakukan dengan mencolek kotoran ayam dan menghirup baunya, ritual ini dikenal dengan istilah “nyolek-nyolek tain belek ”, jika bau ayam lama-kelamaan menjadi harum bagi peserta, maka ia sudah lulus tingkat pertama.

Selanjutnya adalah menjilati “bungut pawon” / tungku berlaluan dan sebagainya. Selesai dari proses ini, barulah sang siswa sah menjadi Leak bagi sang guru dan ia akan melakukan ritual di Setra (kuburan) dengan fasilitas sanggah cucuk dan beberapa sesajen.

Berikut Beberapa Sumpah Yang Harus Ditaati Dalam Belajar Ngeleak :
  1. Selalu hormat dan taat dengan ajaran yang diberikan oleh guru.
  2. Rajin dan taat melakukan ajapa-ajapa untuk menyembah Siwa dan Dhurga dalam bentuk Ilmu Kawisesan (Sakti).
  3. Tidak boleh pamer jika tidak kepepet dan selalu menjalankan Dharma (kebaikan).
  4. Tidak boleh makan daging kaki empat, tidak boleh berhubungan intim dengan orang lain selain pasangan berzinah.
  5. Tidak boleh terluka atau dengan cara apa pun melalui ilmu yang dipelajari.


Itulah, Tahapan Belajar Ngeleak, untuk yang ingin lebih tau tentang belajar ngeleak bisa langsung menuju ke masterleakbali.BLOGspot.com disana lengkap, dan bisa langsung mendaftar untuk belajar ngelak. Semoga bermanfaat. 

Om’ Shanti, shanti, shanti om. . .

10 Karang Panes atau Pekarangan yang Tidak Baik Untuk Dijadikan Tempat Tinggal

10 Karang Panes atau Pekarangan yang Tidak Baik Untuk Dijadikan Tempat Tinggal


Orang Bali khususnya yang beragama Hindu bila mengadakan sebuah upacara keagamaan pasti selalu mencari hari baik atau yang disebut dewasa ayu. Selain itu juga dalam memilih tempat tinggal yang hendaknya menggunakan konsep Tri Hita Karana agar tercipta suasana yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungannya [Asta kosala kosali].

Saya sudah baca dari isi lontar dari “Ira Bhagawan Wiswakarma” yang berbunyi tentang pekarangan atau tanah yang baik dan yang perlu dihindari untuk dibangun baik sebagai perumahan, perkantoran, sekolah, tempat suci dan lain-lain.
Untuk pekarangan yang baik menurut lontar tersebut antara lain :
  • Manemu Labha
  • lebih tinggi di Barat
  • miring ke timur (dari arah pusat kota atau dari arah jalan raya).

Yang disebut “manemu labha” di mana sinar matahari tidak terhalang sejak pagi sampai sore, membawa keberuntungan dan umur panjang. Paribhoga Wredhi, tanah yang miring ke Utara, membawa kemakmuran yang melimpah bagi penghuninya.

Palemahan Asah, tidak ada keistimewaan artinya biasa-biasa saja, namun dengan syarat : sinar matahari, udara dan air tersedia cukup tidak terhalang apapun.

Palemahan Inang, ketika berada di atas tanah itu perasaan damai, tentram dan hening, walaupun lokasi itu tidak memenuhi persyaratan seperti nomor 1,2,3 di atas, disebut “dewa ngukuhi”, membawa ketentraman bathin dan kedamaian. 

Palemahan Mambu, tanah berbau cabe / bumbu dapur ketika dicongkel sedalam 30 Cm, disebut “sihing kanti” sangat baik karena akan mempunyai banyak sahabat.
Untuk pekarangan yang harus dihindari atau dalam bahasa Bali sering disebut dengan “Karang Panes” biasanya ditandai dengan adanya kejadian/musibah yang menimpa anggota keluarga, misal: 
  • sering sakit
  • marah-marah tidak karuan
  • mengalami kebingungan (linglung) 
  • mudah bertengkar dan lain-lain.


10 Karang Panes atau Pekarangan yang Tidak Baik Untuk Dijadikan Tempat Tinggal, antara lain :

#1. Pertama Karang Karubuhan, pekarangan yang berhadap-hadapan atau berpapasan dengan perempatan atau pertigaan atau persimpangan jalan.

#2. Karang Sandanglawe, pekarangan yang pintu masuknya berpapasan dengan pekarangan milik orang lain.

#3. Karang Kuta Kabanda, pekarangan yang diapit oleh 2(dua) ruas jalan.

#4. Karang Sula Nyupi, pekarangan yang berpapasan dengan jalan raya atau numbak marga atau numbak rurung.

#5. Karang Gerah, pekarangan yang terletak dihulu Pura/Parahyangan.

#6. Karang Tenget, pekarangan bekas pekuburan, bekas pura atau bekas pertapaan.

#7. Ketujuh Karang Buta Salah Wetu, pekarangan dimana pernah terjadi kejadian aneh misal: kelahiran babi berkepala gajah, pohon kelapa bercabang, pisang berbuah melalui batangnya.

#8. Karang Boros Wong, pekarangan yang memiliki 2 (dua) pintu masuk sama tinggi dan sejajar.

#9. Karang Suduk Angga, pekarangan yang dibatasi oleh pagar hidup(tanaman) dimana akar-akarnya atau tunasnya masuk ke pekarangan orang lain.

#10. Karang Kalingkuhan, Pekarangan yang dikelilingi tanah atau rumah milik satu orang.

Contoh kasus untuk no 10 yaitu seperti pertanyaan yang dari berbagai masyarat seperti payanadewa, yaitu : Saya berkeinginan membeli sebidang tanah, lokasinya di seberang jalan rumah orang tua.

Kalau diurut, dari barat adalah rumah orang tua, kali, jalan dan lokasi yang dimaksud. Di seberang lokasi yang dimaksud, ada jalan/ gang menuju ke rumah kakek sekaligus jalan menuju ke sanggah. Jika dalam suatu kondisi terpaksa menampati atau membangun rumah yang termasuk “karang panes” disarankan membuat padma capah sebagai stana Sang Hyang Indrablaka/Indraplaka dan pada hari yang tergolong rerahinan (hari suci), si penghuni harus menghaturkan aci (sesaji) untuk memohon keselamatan dan agar terhindar dari pengaruh buruk pekarangan rumah tersebut.

Semoga artikel ini dapat bermanfaat untuk semeton. Jika terdapat penjelasan yang kurang lengkap atau kurang tepat, mohon dikoreksi bersama. Suksma…

Memilih Hari Baik Pernikahan Berdasarkan Pertemuan Otonan, Dewasa Ayu Nganten 2020

Memilih Hari Baik Pernikahan Berdasarkan Pertemuan Otonan, Dewasa Ayu Nganten 2020


Masyarakat dibali, dalam menentukan / memilih hari baik [dewasa Ayu] untuk melangsungkan hari pernikahan menggunakan metoda Wariga. dimana dalam metode wariga terdapat aturan  aturan khusus yang sudah tentunya bila dilanggar atau tidak diindahkan maka akan berakibat kurang baik kedepannya bagi pengguna atau mengganggu kelancaran kegiatan yang dilangsukan (dilaksanakan).

Adapun uger-uger (aturan) umum dari wariga, yang menjadi prioraitas dalam pemilihan dewasa ayu diantaranya:
    
  1. pemilihan  Wewaran yang tepat
  2. Pemilihan Wuku (mingguan) yang tepat
  3. Pemilihan  Penanggal yang tepat
  4. pemilihan Sasih (bulan) yang tepat
  5. pemilihan Dauh (waktu/jam) yang tepat

Kelima aturan diatas haruslah diperhatikan. tetapi sudah sangat pasti, tidak ada dewasa ayu yang sempurna, oleh karena itu pemilihan dewasa ayu berdasarkan prioritas dari urutan teratas, seperti yang tercantum dalam aturan Wariga.

Disamping menggunakan aturan diatas, pemilihan dewasa ayu harusnya juga memperhatikan petemon calon mempelai (pasangan yang akan menikah).

Langkah awal untuk mendapatkan hari baik (dewasa ayu) yang baik adalah dengan cara menjumlahkan urip/neptu Sad Wara dari Pasangan Mempelai yang kemudian ditambah dengan urip/neptu Panca Wara dan Sapta Wara rencana hari pernikahannya. Berikut urip dari Sadwara:
   
  • Tungleh urip-nya 7
  • Aryang urip-nya 6
  • Urukung urip-nya 5
  • Paniron urip-nya 8
  • Was urip-nya 9
  • Mahulu urip-nya 3

Sedangkan urip HARI RENCANA PERNIKAHAN bisa dicari di Pemilihan Dewasa Ayu Nganten. atau setelah menemukan hari yang kira-kira cocok, carilah urip/neptu dari hari tersebut.

berikut ini urip/neptu Panca Wara:
  • Umanis, urip-nya 5
  • Paing, urip-nya 9
  • Pon, urip-nya 7
  • Wage, urip-nya 4
  • Keliwon, urip-nya 8

Dan urip/neptu Sapta Wara:
    
  • Minggu urip-nya 5
  • Senin urip-nya 4
  • Selasa urip-nya 3
  • Rabu urip-nya 7
  • Kamis urip-nya 8
  • Jumat urip-nya 6
  • Sabtu urip-nya 9

Setelah ditemukan jumlahnya, barulah diketahui hasil dari pertemuan pasangan tersebut.

Berikut ini perhitungannya:

(Urip Sapta Wara (mempelai Pria + Wanita) + Urip Hari rencana Menikah) / 16 :
arti sisanya:

  • Bergejolak, mesti tahan uji
  • Selalu menghadapi kesulitan, Banyak pengeluaran
  • Selalu kecewa
  • Sulit mendapatkan keturunan
  • terus mengalami kemajuan, rejeki berlimpah, meningkat terus
  • Penderitaan
  • Meningkat tetapi sangat lambat
  • Serba kekurangan
  • Mewah, kaya raya tetapi sering ricuh dan perebutan kekayaan
  • Berwibawa
  • Selalu dalam keadaan puas
  • Murah rejeki
  • Langgeng, panjang umur
  • Berbahagia
  • Teramat Buruk, sering mengalami kesusahan
  • Selalu Rukun
contoh:

Apabila anda  (pasangan calon penganten) yang akan menikah mempunyai hari lahir:
   
Pihak cowok: 14 Febuari 1980 atau Wrespati Klion Menail, Sadwara: Urukung (urip 5).

Pihak cewek: 25 Oktober 1986 atau Saniscara Klion Kuningan, Sadwara: Maulu (urip 3).

Akan memilih menikah tahun ini, pada bulan Oktober 2020, dimana menurup perhitungan dewasa ayu nganten 2020, bulan oktober merupakan peralihan sasih katiga dan kapat yang merupakan salah satu Dewasa Ayu Menikah Terbaik di tahun 2020.

Adapun pilihan hari baiknya adalah:

  • 9 Oktober 2020 Budha Umanis Julungwangi - Urip 12
  • 11 Oktober 2020 Sukra Pon Julungwangi - Urip 13
  • 17 Oktober 2020 Wrespati Wage Sungsang - Urip 12
  • 21 Oktober 2020 Soma Pon Dunggulan - Urip 11
  • 2 Oktober 2020 Budha Wage Warigadean - Urip 11
  • 7 Oktober 2020 Soma Wage Julungwangi - Urip 8
  • 14 Oktober 2020 Soma Umanis Sungsang - Urip 9

Dari rumus petemon, dapat dihitung

Urip saptawara cowok + Urip saptawara cewek + Urip Dewasa Ayu

Sehingga,
   
9 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 12 ) / 16 = sisa 4 artinya Sulit mendapatkan keturunan

    
11 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 13 ) / 16 = sisa 5 artinya Rejeki berlimpah

    
17 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 12 ) / 16 = sisa 4 artinya Sulit mendapatkan keturunan

    
21 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 11 ) / 16 = sisa 3 artinya Selalu kecewa

    
2 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 11 ) / 16 = sisa 3 artinya Selalu kecewa

    
7 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 8 ) / 16 = sisa 0/16 artinya Selalu Rukun

  
 14 Oktober 2020 = ( 5 + 3 + 9 ) / 16 = sisa 1 artinya Bergejolak.

Jadi, menurut perhitungan WARIGA, pemilihan hari pernikahan yang terbaik, yang penulis sarankan adalah tanggal 11 Oktober 2020 atau 7 Oktober 201. demikian sedikit ulasan mengenai Memilih Hari Baik Pernikahan berdasarkan pertemuan Otonan. semoga bermanfaat.

5 Cara Memilih Dewasa Ayu Nganten, Upakara Bali


5 Cara Memilih Dewasa Ayu Nganten, Upakara Bali

Om, Swastyastu, Semeton Bali! Apakah Anda berencana Nganten/menikah? Kali ini saya akan menjelaskan 5 cara mendapatkan hari baik untuk melakukan prosesi pernikahan atau dikenal dengan sebutan Dewasa Ayu Nganten, dalam Upakara Bali ini kita harus memperhatikan pakem wariga.

Standar minimal yang disebut dengan Aman dalam menjalankan kehidupan baru yang diawali dengan Natab Banten Penganten, maka dari itu, perlu diperhatikan 5 hal berikut ini, yang merupakan urutan prioritas dalam memilih dewasa ayu nganten:

#1. Wuku

#2. Dina/Hari

#3. Penanggal

#4. Sasih

#5. Subacara

Disamping itu, ada juga dalil yang perlu dan harus diperhatikan:

#a. Wewaran dikalahkan oleh wuku

#b. Wuku dikalahkan oleh penanggal

#c. Penanggal dikalahkan oleh sasih

#d. Sasih dikalahkan oleh dauh

#e. Dauh dikalahkan oleh WETUniya Sanghyang Triodasa Sakti (Kehening Hati).

Dari semuanya, yang terakhir itu cukup sulit dicapai, dan hanya sulinggihlah yang bisa melaksanakan hal terakhir tersebut secara normatif (Manah Hening), karena itulah Sulinggih disebut “Meraga Putus.”
Berikut ini penjelasan Cara Memilih Duase Ayu Nganten, Upakara Bali

1#. Wuku

Pilihan wuku-wuku di rekomendasikan, hati-hatilah memilih karena kesalahan mengambil keputusan memilih wuku ini mengakibatkan jangka menengah dalam menjalani bahtra rumah tangga Anda.
Ini beberapa wuku-wuku yang sangat direkomendasikan:

a. Landep

b. Ukir

c. Kulantir

d. Juluwangi

e. Merakih

f. Matal

g. Uye

h. Ugu

#2. Dina/Hari

Dina atau Hari merupakan bilangan Sapta Wara. Jika sudah memperhatikan Wuku, maka selanjutnya memperhatikan harinya. Didalam Wariga disebutkan Dewasa Ayu wewangun pewiwahan atau nganten dipilih pada hari:

#a. Senin atau Soma, yang mempunyai arti bertemu kebahagiaan.

#b. Rabu atau Budha, yang mempunyai arti baik.

#c. Kamis atau Wrespati, yang mempunyai arti Kinasihaning Jana (disanyangi orang banyak/masyarakat).

#d. Jum’at atau Sukra, yang mempunyai arti berbahagia/mewah.

Selain itu, sangat dilarang karena tidak baik.

#3. Penanggal

Penanggal/tanggal yang pas untuk memilih jalannya upakara pewiwahan/nganten. Perhitungan hari setelah Tilem. Penanggal yang di rekomendasikan untuk dipilih:

#a. Ping 1, artinya menemukan kebahagian.

#b. Ping 2, artinya berkecukupan.

#c. Ping 3, artinya banyak keturunan.

#d. Ping 5, artinya menemukan kebahagiaan/langgeng.

#e. Ping 7, artinya menemukan kerukunan.

#f. Ping 10, artinya murah rejeki.

#g. Ping 13, artinya mewah/berlimpah.

#4. Sasih/Bulan

Untuk sasih atau bulan direkomendasikan memilih sasih sebagai berikut:

#a. September/Katiga, Asuji=Banyak mempunyai keturunan.

#b. Oktober/Kapat, Kartika=Murah Rejeki.

#c. November/Kalima, Margasari=Mewah/berlimpah.

#d. Januari/Kapitu, Magha=Dirgayusa/langgeng.

#e. April/Kadasa, Waisyaka=Sangat baik, berbahagia, berwibawa.

#5. Subacara

Subacara merupakan hari yang paling dicari-cari dalam sebuah kegiatan Upakara Bali. Saya menyakinkan setiap hari ada baik maupun buruknya. Dan diupayakan untuk menghindari hari buruk untuk kerahayuan keluarga. Subacara ini bermakna “Nyupat” (Ngeruat) setiap keburukan yang terkandung dalam wewaran. Subacara ini jatuh pada:

#a. Sening penanggal ping 3.
#b. Rabu penggal ping 2 dan 3.
#c. Kamis penanggal ping 5.
#d. Jum’at penanggal ping 1,2 dan 3.

Itulah 5 cara memilih dewasa ayu nganten, dari 5 poin diatas wajib diperhatikan jika ingin melaksanakan pewiwahan. Dan satu hal penting, yang disebut dengan ritual pernikahan adalah hari dimana saat pasangan pengantin natab Banten Anten, biasanya berupa Banten Biyakala atau juga disebut banten mekalan-kalan. Demikian 5 cara memilih duase ayu nganten dalam upakara Bali, semoga tulisan ini bermanfaat bagi orang banyak, dan jangan lupa terus ikuti payanadewa atau silakan berlangganan artikel selanjutnya di bawah.

cagarmatajen


cagarmatajen merupakan kepanjangan dari cara agar menang metajen.

Agar menang dalam metajen selain menggunakan lontar pengayam-ayaman Anda harus mengikuti hal ini.

Memang saat ini banyak yang bicara percuma mempelajari lontar karena ayam sekarang sudah kebal dengan obat, tapi jangan salah banyak ayam lokal bali yang lebih unggul dalam arena. Karena enggak bisa dipungkiri filsafat leluhur, apa itu?

Nah, langsung saja. Selain menerapkan lontar pengayam-ayaman orang bali dulu sangat disiplin dalam hal ini, karena tujuannya menang. Untuk menuju ke tempat tajen juga menggunakan hari dan duase Anda bisa lihat disini

Dan selain menggunakan duase, mereka juga melakukan nunas ica (memohon) kepada Pengijeng Karang dan jika membawa ayam yang igin di taruhkan meraka akan memberi tau kepada keluarga agar tidak menyentuh sangkar ayam tersebut.

Selain itu, Orang Bali dulu yang ingin melepas ayamnya memilih Saye atau orang yang melepas ayam meraka, apa dia ius (beruntung) dalam hari tersebut. Dan juga apa di hari tersebut ayam kecil atau ayam besar yang jaya.


Nah, itu saja yang saya bisa sampaikan kepada anda pembaca. Jangan pernah menyepelekan firasat leluhur, karena tujuan anda ke tajen itu menang. Jika hanya menghibur lain ceritanya lagi. 

Antara Kali Ciliwung dan Sungai Guadalquivir


Jangan salahkan sungai yang meluap, namun salahkan kita yang tak menjaga lancar arusnya. Jangan salahkan hujan deras mengguyur, namun salahkan kita yang terus membabati pepohonan dan merubah area resapan menjadi gedung, villa dan perumahan. Jangan salahkan air yang mencari jalan ke muara, namun salahkan kita yang terus mempersempit jalurnya dengan sampah.

Hampir setiap peradaban besar dibangun di bantaran sungai atau tepian laut. Karena sungai dan laut dengan air dan ragam sumber dayanya adalah modal kehidupan. Namun, sungai dan air mensyaratkan pengelolaan nan cerdik dari manusia penghuni bantarannya dan bukan keacuhan dan doa keselamatan semata.

Jika Jakarta punya kali Ciliwung, Andalusia punya sungai Guadalquivir. Kota-kota utama berada di sepanjang bantarannya; Cordoba, Seville. Ia adalah sungai terpanjang kedua di Spanyol, berkelok sejauh 657 kilometer, dari hulu di Cañada de Las Fuentes dan bermuara di Samudera Atlantik. Sungai Guadalquivir, yang namanya berasal dari Bahasa Arab al-wādī l-kabīr yang berarti Sungai Nan Besar, adalah alasan perkembangan berbagai peradaban di sisi selatan Semenanjung Iberia tersebut. Bangsa Phoenicia, Romawi, Visigoth, Arab, dan sekarang Spanyol bergantian memanfaatkannya untuk pengairan, pelayaran, perdagangan sekaligus pertahanan militer.

Mereka yang ingin menguasai Andalusia mesti mengawali dengan menguasai sungai Guadalquivir. Dan siapa mengontrol alurnya, bakal menguasai kekayaan alam dan sumber daya di sepanjang bantarannya.

Bangsa Romawi membangun jembatan batu di Cordoba untuk menyambungkan kota terbesarnya dengan daerah lain. Bangsa Arab membangun benteng pertahanan disertai menara emas Torre del Oro di sisinya untuk mengontrol pertahanan sekaligus menghalau musuh. Bangsa Spanyol membangun armada laut dan dermaga kapal dagang transatlantik di bantarannya. Semua mendayagunakan teknologi termutakhir di jamannya untuk menghadapi tantangan hidup.

Beberapa kali sungai Guadalquivir meluap, membanjiri kota-kota dan kawasan sekitarnya. Banjir yang tak hanya merusak namun juga mengorbankan tak sedikit jiwa penghuninya. Semua terjadi ketika penguasa lalai memfokuskan diri dan upayanya mengelola daya latennya.

Kita bisa belajar banyak dari kisah-kisah peradaban besar yang jatuh bangun di sepanjang bantaran sungai Guadalquivir. Menyerap hikmah dari upaya manusia-manusia di belakangnya, idealisme, perjuangan, inovasi, dan semangat pantang menyerah mereka yang mencoba mengelola sungai besar demi kemaslahatan masyarakatnya.

Kita bisa belajar dari itu semua dan menerapkannya di sungai-sungai kita. Di Ciliwung, Citarum, Bengawan Solo, Brantas, Musi, Kapuas dan lain sebagainya. Kita bisa belajar menghargai keberadaannya dengan segala potensi yang ada dan menjaganya sehingga tak berujung bencana macam yang terus berulang menghantui ibukota.

KEREN NIH! Program Kredit Perumahan Krama (KRURA) LPD Kedonganan

Krama yang tidak punya rumah, dibuatkan oleh LPD, krama kemudian mencicil dg nilai murah per bulan. Konsep cerdas ini telah menyelesaikan beberapa persoalan:


1. Krama yang tidak punya rumah dan harus tinggal bertumpuk - tumpuk dg sameton dalam satu rumah.

2. Tanah Bali dikuasai oleh krama sendiri melalui LPD sebagai mediator keuangannya.

3. Kesejahteraan Krama meningkat secara mandiri, melalui Desa Adat

4. Krama Bali tidak perlu transmigrasi, untuk memiliki rumah

5. Krama menjadi lebih termotivasi untuk bekerja keras

6. Keberadaan Desa Adat sangat krusial dalam menjaga kramanya menjadi tuan di rumah sendiri

Dimana lokasi ini? Ada di Ungasan. Dibangun oleh LPD Kedonganan ⠀ Bangunan dibuatkan lengkap dengan Padmasana, upacara lengkap Pecaruan Ngrsi Gana dan Pemelaspasan. ⠀

BANGUNAN HARUS DITEMPATI, TIDAK BOLEH DIPINDAHTANGANKAN/DIKONTRAKKAN

Tanahnya 1 Are, bangunannya bagus gak asal asalan dan lingkungan dibuat nyaman dan asri dengan jalan cukup lebar.


Bagaimana menurut kalian? Kalau semua LPD Desa bisa melakukan ini, alangkah bagusnya buat masyarakat itu sendiri.