Single Parent, Orang Tua Dengan Kekuatan Super


Single parent ialah sebutan dari orang tua tunggal yang mengayuh biduk rumah tangganya sendiri tanpa seorang pasangan hidup.

Biasanya seseorang menjadi single parent karena dipisahkan oleh perceraian ataupun kematian dari pasangan hidupnya. Entah dia Laki-Laki ataupun Wanita.

Rasanya tidak berlebihan bila tulisan kali ini saya beri judul seperti diatas. Single parent hadir bagai manusia super. Super sabar. Super kuat. Super berani. Super telaten. Dan banyak julukan super lainnya, layak disandangkan pada sosoknya.

Bilamana ia Perempuan kita menyebutnya Super Mom dan kalau ia Laki-Laki kita biasa meyebutnya Super Dad, Bagaimana tidak. Setumpuk tugas dan pekerjaan, yang harusnya dibagi dengan pasangan hidup, harus dikerjakan sendirian. Menjadi ayah, sekaligus menjadi ibu bagi buah hati mereka. Tentu bukan hal yang mudah. Pastilah hanya mereka yang bermental baja yang mampu melewatinya.

Masalahpun akan bertambah pelik ketika yang menjadi single parent adalah seorang Perempuan. Orang biasa menyebut mereka dengan sebutan Janda. Ya..., seorang Janda. Bukan rahasia lagi, bila kehadiran sosok Janda sering menjadi bahan gunjingan bagi orang sekitarnya. Entah mengapa stigma negatif kadang melekat pada diri mereka.

Sindiran-sindiran tak manusiawi kerap menghampiri. Kadang terasa sangat nyinyir dan sinis. Ironisnya, seringkali cibiran itu meluncur dari mulut sesama kaum Perempuan. Sungguh aneh. Sesama Perempuan merendahkan kaumnya sendiri. Padahal yang sedang mereka bicarakan juga tentang martabat Perempuan. Sebegitu rendahkah harkat seorang Janda, hingga keberadaannya seolah lampu kuning bagi sesama Perempuan untuk berhati-hati. Apalagi bila kebetulan sang Janda berwajah cantik nan aduhai. Belum lagi godaan yang datang dari kaum Lelaki, yang sering terasa melecehkan sekaligus menghinakan.

Sesungguhnya menjadi Single Parent, baik itu karena perceraian maupun dipisahkan oleh kematian adalah sesuatu yang pasti tak seorangpun di-dunia ini yang menginginkannya. Manusia mana yang ingin berpisah dengan orang yang dicintainya? Namun kadang takdir hidup tak selalu berjalan seiring dengan harapan. Terfikirkah oleh Anda bila Anda yang mengalaminya? Nyamankah Anda, bila ada orang memandang sebelah mata dengan status Anda sebagai Janda?
Seperti kisah salah seorang sahabatku. Ia seorang single parent, bahkan diusia yang boleh dikatakan sangat muda. 30 tahun. Saat suaminya pergi meninggalkannya untuk selamanya, keluarga kecil itu baru saja dikaruniai anak ke-2. Laki-laki. Seolah melengkapi kebahagiaan mereka, karena sebelumnya 1 anak mereka terdahulu adalah perempuan. Namun malang tak dapat ditolak, saat si bungsu baru menginjak usia 3 bulan, suaminya menderita sakit yang serius hingga tak berselang lama, Tuhan memanggilnya.

Kebahagiaan-nya-pun terenggut seketika. Kepergian sang ayah tak hanya menyisakan kesedihan, tapi juga melahirkan 2 anak yatim baru. Anak-anak belia yang masih sangat membutuhkan kasih sayang seorang ayah.

Limbung tentu saja. Seketika sang Ibu harus menjadi single parent bagi kedua anaknya. Sementara selama ini dia hanya perempuan rumahan yang tak piawai mencari uang. Tak mandiri secara finansial. Segalanya bergantung pada suami. Bagai sayap burung yang patah. Yang tak mampu lagi terbang.

Sesaat masa depan terasa gelap dan suram. Gamang dan bingung menyambut hari esok. Namun Tuhan selalu tepat menakar takdir seseorang. Disiapkan-Nya segala sesuatu dengan begitu sempurna.

Ada kesulitan untuk kemudian diberi-Nya kemudahan. Hingga meski masalah mendera, datang silih berganti, semua bisa dilewatinya. Meski harus dengan terseok. Bagaikan air mengalir, tiba-tiba tawaran bekerja dari teman dan sahabat berdatangan menghampiri. Hingga iapun bisa sedikit mengatasi masalah finansialnya, meski tak sempurna.
Mentalnya pun terasah, ketika godaan datang dari para Lelaki iseng disekitar rumah, bisa ia tanggapi dengan santai. Meski pasti hatinya merasa terhina. Kesabarannya teruji ketika dihadapi persoalan remeh temeh berkait dengan urusan rumah tangga, seperti membetulkan pompa air yang macet, genteng yang bocor, got yang mampet, dan banyak hal lainnya yang seharusnya menjadi urusan para ayah.

Ditengah kesedihan, ia juga harus tegar menghibur anak-anaknya yang masih polos dan lugu yang terus bertanya kemana ayahnya pergi. Belum lagi, bila dalam kesendirian hadir rasa rindu akan sosok suaminya, tempatnya bersandar ketika lelah mendera. Hingga pecah tangisnya menahan segala rasa. Pasti tak mudah melewatinya.

Tuhan benar-benar menggemblengnya. Untuk naik kelas. Dalam karunia Tuhan juga dalam kearifan.

No comments:

Post a Comment

Bagaimana Menurut Anda Tulisan Ini, Membantu atau Tidak? Tuliskan Masukan Anda di Kolom Komentar, dibawah!