Belajar Makna Banten Saiban dalam Hindu Bali


Bali merupakan sebuah pulau yang memiliki berbagai tradisi yang hingga saat ini masih begitu kental dan terus dilaksanakan oleh hampir seluruh masyarakat Bali terutama yang menganut agama Hindu. Salah satu tradisi di Bali yang cukup populer adalah Banten Saiban. Dimana banten ini juga sering disebut dengan ngejot yang merupakan sebuah tradisi Hindu di Bali yang dilakukan sesudah selesai memasak di pagi hari setiap harinya. Mesaiban atau Mejotan disebut juga dengan Yadnya Sesa yang tak lain adalah yadnya yang paling sederhana serta realitas Panca Yadnya yang dilakukan umat Hindu di kehidupan sehari-hari. 

Pelaksanaan saiban ini memang seharusnya dilakukan setelah selesai memasak atau sebelum menikmati hidangan makanan. Dalam tradisi ini tersimpan makna banten saiban yang begitu mendalam bagi kehidupan umat Hindu di Bali. Dimana banten saiban ini adalah penerapan dari ajaran kesusialaan Hindu yang mengharuskan umat agar senantiasa bersikap anersangsa dengan tidak mementingkan diri sendiri serta ambeg para mertha yang berarti mendahulukan kepentingan di luar diri. Pelaksanaan banten saiban ini bermakna bahwa manusia sesuai selesai memasak memang harus memberikan persembahan berupa makanan sebab makanan tersebut adalah sumber kehidupan di dunia. 

Tujuan dilakukannya banten saiban ini adalah sebagai wujud syukur dari yang diberikan oleh Sang Hyang Widhi pada manusia. Seperti yang telah diketahui bahwa yadnya merupakan sarana dalam menghubungkan manusia dengan Sang Hyang Widhi Wasa agar memperoleh kesucian jiwa. Selain itu saiban juga merupakan manifestasi-Nya serta makhluk ciptaan-nya termasuk juga alam serta isinya. 

Dalam melaksanakan banten saiban juga terdapat sarana yang sederhan karena banten ini merupakan yang paling sederhana. Biasanya banten saiban ini dihaturkan memakai daun pisang yang diisi nasi, lauk pauk dan garam lalu disajikan sesuai yang sedang di masak hari ini. Tetapi tidak ada keharusan untuk menghaturkan lauk pauk tersebut. Saiban yang sempurna merupakan yang dihaturkan lalu dipercikkan air bersih serta dupa menyala sebagai saksi persembahan tersebut. Tetapi yang sederhana dapat dilakukan tanpa memercikkan air maupun menyalakan dupa. Sebab wujud saiban itu sendiri memang begitu sederhana. 

Setelah mengetahui sarana dan makna banten saiban, hal penting yang perlu anda pahami juga adalah tempat untuk menghaturkan saiban. Ternyata terdapat 5 tempat yang dihaturkan dalam saiban sebagai simbol Panca Maha Bhuta. Lima tempat tersebut antara lain sebagai berikut : 

  1. Pertiwi atau tanah yang biasanya ditempatkan di bagian pintu keluar rumah maupun pintu halaman. 
  2. Air atau Apah yang ditempatkan di sumur ataupun tempat air. 
  3. Api atau Teja yang ditempatkan di dapur pada tempat memasak atau tungku maupun kompor. 
  4. Bayu ditempatkan di berasa maupun nasi. 
  5. Akasa ditempatkan di tempat sembahyang baik itu pelinggih, pelangkiran dan lain sebagainya. 


Tempat untuk meletakkan saiban bila menurut Manawa Dharmasastra yaitu Sanggah Pamerajan, tempat air minum di dapur, dapur, lesung, batu asahan dan sapu. Kelima tempat terakhir yang sudah disebutkan di atas merupakan tempat dimana keluarga dapat melakukan Himsa Karma setiap hari. Sebab secara tidak sengaja sudah melakukan pembunuhan binatang maupun tumbuhan di tempat tersebut. 

Melalui penjelasan di atas bisa disimpulkan bahwa banten saiban merupakan sebuah tradisi Hindu Bali yang mempersembahkan apa yang dimasak di pagi hari kepada Tuhan sekaligus manifestai-nya terlebih dahulu lalu barulah sisanya dimakan. Semua itu dilakukan sebagai wujud syukur kepada Tuhan serta menebus dosa atas pembunuhan pada binatang dan tumbuhan yang diolah menjadi hidangan makanan pada hari itu.

No comments:

Post a Comment

Bagaimana Menurut Anda Tulisan Ini, Membantu atau Tidak? Tuliskan Masukan Anda di Kolom Komentar, dibawah!