Reklamasi Teluk Benoa, Berdampak Positif Atau Negatif?

Reklamasi Teluk Benoa, Berdampak Positif Atau Negatif?

Teluk Benoa merupakan sebuah kawasan yang terletak di bagian selatan Pulau Bali. Seperti kita tahu, wilayah selatan Pulau Bali merupakan daerah yang paling berkembang terutama untuk sektor pariwisata yang terdapat di Pulau Bali. Lokasi Teluk Benoa sendiri berada di centre point untuk daerah pariwisata di wilayah Bali selatan yakni berbatasan langsung dengan Kuta, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Denpasar, Bandara Ngurah Rai, dan juga wilayah bekas reklamasi Pulau Serangan. Selain itu, Teluk Benoa merupakan wilayah konservasi mangrove terbesar di Pulau Bali yang luasannya hampir mencapai 2000 hektar menurut data dari buku Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD) Bali.

Sebelum masuk ke isu reklamasi Teluk Benoa yang saat ini terjadi, pemuatan pulau sebelumnya pernah terjadi di Bali pada sekitar tahun 1993-1995. Reklamasi tersebut adalah pelebaran Pulau Serangan yang terletak di bagian mulut Teluk Benoa. Reklamasi di Pulau serangan pada saat itu sejatinya bertujuan untuk membuat daerah pariwisata baru yang nantinya bisa menarik banyak wisatawan untuk berkunjung kesana. Tapi hingga saat ini kawasan serangan hanya menjadi sebuah tanah kapur kosong yang sesekali hanya dipakai sebagai spot untuk memancing oleh beberapa warga disekitarnya.

Meskipun terdapat beberapa titik yang terdapat kafe-kafe untuk wisatawan, namun jumlahnya tidak banyak dan hanya berada di beberapa titik saja. Selain itu dampak reklamasi serangan juga membuat bagian mulut Teluk Benoa mengalami penyempitan. Hal tersebut membuat aliran arus yang masuk dan keluar Teluk pada saat kondisi pasang atau surut cukup besar. Dampaknya jelas, banyak sekali material yang terbawa ke daerah mulut Teluk sehingga bagian tersebut relatif cepat untuk mengalami pendangkalan.

Berbicara tentang reklamasi Teluk Benoa, tentu tidak akan pernah lepas dari isu Lingkungan, Pariwisata, Budaya, dan yang jelas adalah isu Politik. Sebagai salah satu lokasi yang sangat strategis tentu saja banyak pihak yang berharap agar potensi pariwisata di Teluk Benoa semakin dikembangkan. Nah, untuk saat ini salah satu upaya yang hendak dilaksanakan oleh pemerintah provinsi Bali adalah rencana pengembangan Teluk Benoa melalui jalur Reklamasi.

Reklamasi tersebut bertujuan untuk membuat pulau-pulau baru yang nantinya akan dijadikan destinasi pariwisata baru di Pulau Bali. Permasalahannya adalah, dalam setiap pembangunan apalagi yang berskala besar tentu saja harus dilakukan yang namanya uji AMDAL (Analisis Mengenai Dampak Lingkungan). Dari hasil analisis ini dapat dijadikan acuan dan juga saran seperti apa nanti proses reklamasi itu berlangsung, pembentukan pulau, serta apa saja yang wajib dan dilarang untuk dilakukan oleh pihak pengembang. Berbicara tentang AMDAL tentu saja banyak aspek yang harus dipenuhi, namun dalam tulisan kali ini hanya dua aspek saja yang akan dibahas yakni mengenai aspek lingkungan dan sosial budaya.

LINGKUNGAN

Dimulai dari dampak secara lingkungan dari proses dan pulau hasil reklamasi tersebut. Analisa dampak lingkungan nantinya akan berhubungan erat dengan masalah teknis dalam pembuatan pulau reklamasi sehingga kondisi lingkungan Teluk Benoa tidak menjadi memburuk pasca reklamasi. Ketika berbicara sebuah Teluk tentu saja fungsinya sangat penting, diantaranya sebagai tempat pembilasan (water flushing), tempat dari berbagai biota dalam berkembang biak oleh beberapa spesies hewan laut. Teluk Benoa sendiri memiliki beberapa manfaat yang cukup penting diantaranya adalah sebagai area konservasi mangrove, muara sungai-sungai besar di Pulau Bali, menjadi tempat berkembang biak dan mencari makan beberapa biota laut, serta tempat pembilasan (water flushing) bagi polutan sebelum menuju ke laut lepas.

Sebuah studi yang dilakukan oleh salah satu LSM menyebutkan bahwa apabila di Teluk Benoa dilaksanakan reklamasi, maka hal tersebut akan memiliki dampak terhadap banyaknya volume air laut yang masuk. Sebagai daerah yang menjadi muara dari beberapa sungai-sungai besar, tentu saja hal ini sangat memiliki pengaruh yang cukup banyak. Hal yang dimungkinkan terjadi adalah perbandingan antara air sungai dan air laut yang selama ini sudah terjadi akan mengalami perubahan seperti perubahan salinitas, ketinggian muka air, kadar oksigen terlarut, atau pengaruhnya terhadap endapan sedimen.

Kondisi teersebut dikhwatirkan akan mengganggu keseimbangan ekosistem di Teluk Benoa yang selama ini terbentuk seperti ekosistem mangrove, bentos, ikan-ikan kecil, dan lain sebagainya. Selain itu luasan teluk yang mulai mengecil juga akan berimbas terhadap pola arus yang berada di Teluk Benoa, dimana dinamika arus tersebut akan mempengaruhi proses sedimentasi. Seperti contoh adalah mengecilnya mulut teluk akibat reklamasi pulau serangan membuat kecepatan arus yang masuk ke Teluk Benoa mengalami peningkatan yang salah satu imbasnya adalah cepatnya proses pendangkalan yang terjadi di sekitar mulut Teluk Benoa. Oleh sebab itu rencana dari reklamasi Teluk Benoa ini hendaknya dilakukan kajian yang secara spesifik dan lebih mendalam terhadap dampak yang terjadi pada ekosisitem Teluk Benoa.

SOSIAL BUDAYA

Teluk Benoa cukup di-identikan sebagai salah satu kawasan suci yang terdapat di area selatan Bali. Cukup banyak dan sering masyarakat Hindu Bali yang melaksanakan berbagai upacara agama ataupun adat yang dilakukan di kawasan Teluk Benoa. Hingga saat ini hampir mayoritas masyarakat yang daerahnya berbatasan langsung dengan kawasan Teluk Benoa telah mendeklarasikan diri untuk menolak rencana Reklamasi yang hendak dilakukan oleh pemprov Bali. Desa-desa yang dimaksud antara lain Tanjung Benoa, Bualu, Kedonganan, Kuta, Kelan, Serangan, dll. Sebagai salah satu masyarakat yang pastinya akan mengalami dampak tentu saja kajian mengenai sosial masyarakat ini harus dilakukan lebih intensif lagi, mengingat masyarakat daerah mereka lah yang nantinya akan mengalami dampak paling besar akibat Reklamasi Teluk Benoa. Untuk membuat sebuah AMDAL yang baik tentu saja semua kajian tersebut harus dilakukan secara komprehensif sehingga tidak ada yang dirugikan diantara pihak pengembang dan masyarakat yang terdampak langsung di daerah tersebut.

Dari beberapa uraian diatas menunjukkan bahwa setiap proyek besar tentunya harus memiliki rencana yang jelas. Hal ini wajib dilakukan untuk menghindari hal-hal yang tidak di inginkan ketika nantinya proyek sudah dijalankan ataupun sudah selesai dalam pengerjaannya. Jika nantinya Teluk Benoa jadi untuk di Reklamasi hendaknya mempertimbangkan aspek lingkungan dan budaya yang selama ini menjadi isu yang cukup hangat di Bali. Tentu saja kita semua tidak ingin pengembangan Teluk Benoa sebagai daerah reklamasi nantinya akan sama seperti reklamasi serangan yang sampai saat ini belum terlihat manfaatnya dan justru memberikan efek buruk terutama mempercepat proses pendangakan mulut Teluk Benoa akibat terjadinya penyempitan mulut Teluk.


Sebagai sebuah daerah yang sangat strategis tentu saja pengembangan kawasan di daerah Teluk Benoa wajib hukumnya untuk dilakukan. Namun hendaknya dalam proses pengembangan tersebut dapat dilakukan dengan perencanaan yang jelas sehingga tidak menjadikan sebuah bencana atau merugikan banyak pihak. Pengembangan kawasan Teluk Benoa tak harus dengan cara reklamasi, melainkan bisa dengan metode yang lain misalnya mempercantik kawasan mangrove untuk dijadikan daerah pariwisata atau memanfaatkan kawasan dalam Teluk sebagai daerah Bahari. Mengembalikan kawasan Teluk Benoa menjadi daerah konservasi juga bisa dijadikan salah satu proyek “Revitalisasi Teluk Benoa” yang selama ini sering di dengungkan dalam pengembangan Teluk Benoa.

No comments:

Post a Comment

Bagaimana Menurut Anda Tulisan Ini, Membantu atau Tidak? Tuliskan Masukan Anda di Kolom Komentar, dibawah!