Masyarakat Bali: Banten Upakara

Budaya Bali Banten Upakara

BANTEN UPAKARA Prilaku keagamaan masyarakat Bali pada pelaksanaan upacara yajnya tidak bisa lepas dengan banten upakara sebagai sarana bhakti. Banten upakara adalah hasil rumusan seorang brahmana yang bernama Mpu Lutuk, beliaulah desain banten yang dikenal masyarakat Bali sampai saat ini.

Namun tidak semua masyarakat Bali memahami arti dan makna banten upakara, bahkan saat ini banten upakara malah menjadi paket komoditi bagi beberapa masyarakat karena peluang kemasabodohan masyarakat sekarang ini. Banten upakara memiliki nilai spiritualitas dan prinsip moralitas pada bentuknya, memiliki prinsip dan hakekat keterhubungan ( yoga ) pada saat mengerjakan sebuah banten.

Banten pada dasarnya dapat dibagi tiga golongan yang memiliki karakter yang berbeda pula. Pertama banten adalah sebagai LINGGA dari para dewa , kedua banten adalah sebagai bentuk RIASAN atau berfungsi estetika, ketiga banten adalah sebagai SODA atau suguhan kepada para dewa dan pengikutnya.

Keseluruhan bentuk banten memiliki konsep energi yang bersumber pada bahan dasar banten yang memang menggunakan bahan tertentu, walaupun susah mencarinya. Karena itu merupakan sarana pokok banten dan tidak bisa digantikan oleh bahan lain. Inilah prinsip yantra dalam lontar Mpu Lutuk yang mengandung nilai eksoterik atau energi kuantum yang bersifat mistis dan unik. Saat ini masyarakat mengartikan banten sebagai sarana yang disuguhkan atau makanan sehingga banten saat ini menggunakan jenis buah dan panganan APA YANG DISENANGI oleh sipembuat banten tersebut.

Prinsip lingga merupakan pengganti dari bangunan suci atau patung pada jaman Bali kuno adalah banten DAKSINA yang ditempatkan pada setiap bangunan pelinggih. Lantas apa latar belakang daksina sebagai pengganti lingga arcanam adalah sebuah tehnik YANTRA dari karakter spiritual masyarakat Bali, disamping tetap pada karakter spiritual Bali yang unik dimata dunia. Yantra adalah sebuah konsep simbul yang sengaja diciptakan para leluhur untuk adanya kekhawatiran mulai mengendornya konsep mantra yang dinilai sudah mulai menurun minat belajarnya sehingga banten ini merupakan simbul dari sebagian untaian mantra para brahmana.

Begitulah para leluhur kita sangat memahami perkembangan jaman dan prilaku masyarakatnya. Selanjutnya kalau banten juga mulai ditinggalkan masyarakat, kita-kira apa yang akan menjadi penggantinya? Apakah kita akan kembali ke jaman mantra ? tidak mungkin karena membutuhkan tingkat kecemerlangan pikiran dan bathin untuk melafalkannya dan tidak kebanyakan memiliki kemampuan. Inilah yang mendorong kami untuk menggali kembali ajaran tantra bali kuno yang berdasarkan mantra, yantra dan tantra.


Sebagai penopang atas mulai kendornya minat masyarakat untuk belajar membuat banten upakara, maka kami mendominasi segala kegiatan termasuk kajian dan analisa relegius dengan menggunakan tehnik pendekatan tantra. Untuk itu mohon para pencinta agama, tradisi dan budaya Bali untuk ikut memikirkan permasalahan ini, mumpung belum terlambat untuk mencegah serta mempersiapkan masa depan anak cucu kita......rahayu.

No comments:

Post a Comment

Bagaimana Menurut Anda Tulisan Ini, Membantu atau Tidak? Tuliskan Masukan Anda di Kolom Komentar, dibawah!